Enam persen lebih. Segitu akumulasi kenaikan IHSG dalam sepekan terakhir, angka yang agaknya di luar ekspektasi banyak orang mengingat tekanan global yang belum sepenuhnya reda.
Pada penutupan Jumat (10/4), indeks bertengger di 7.458,49, naik 150 poin atau 2,06% dalam sehari. Sepanjang sesi, IHSG bergerak nyaman di zona hijau dengan kisaran 7.346 hingga 7.488. Total kenaikan mingguan: 6,14%. Bak orang yang baru sembuh dari sakit lalu langsung lari sprint.
Kenaikan ini tidak datang dari langit. Valdy Kurniawan, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, menyebut dua faktor utama pendorong sentimen positif pekan lalu: harapan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran, serta antisipasi musim pembagian dividen dari emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia. Kombinasi yang, jujur saja, cukup ampuh untuk memancing pelaku pasar kembali masuk.
Asing ikut bergerak. Net buy investor asing tercatat Rp 193,91 miliar di seluruh pasar, sinyal bahwa aksi jual yang beberapa waktu lalu sempat menghajar indeks mulai mereda.
Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, menilai pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu menunjukkan fase pemulihan yang cukup kuat setelah sebelumnya indeks tertekan. Bukan sekadar rebound teknikal biasa, kalau kata sebagian analis.
Pertanyaannya, berapa lama tren ini bisa bertahan? Proyeksi menunjuk pada penguatan terbatas untuk perdagangan Senin (13/4), bukan reli besar. Bagi investor ritel yang sedang menghitung ulang posisi, ini bisa jadi celah yang sayang dilewatkan: emiten-emiten pembagi dividen layak dicermati sebelum cum date-nya keburu lewat.