Empat persen dalam sepekan. Itu kinerja IHSG pekan ini, gain mingguan terbesar sepanjang 2026, didorong kombinasi meredanya tensi geopolitik, perbaikan outlook rating, dan valuasi yang sudah terlalu murah untuk diabaikan setelah kejatuhan 20% sejak awal tahun.
Bukan saham-saham perbankan kakap yang jadi motor penggerak. Emiten konglomerasi, terutama Grup Barito, yang menopang indeks sepanjang pekan. Net buy investor domestik menyertai pergerakan itu, sinyal yang agaknya lebih sehat ketimbang reli yang semata ditopang asing.
Secara teknikal, hari ini IHSG punya satu ujian konkret: tutup di atas 7.340. Kalau berhasil, indeks resmi keluar dari tren bear market yang sudah cukup lama membayangi. Kalau gagal, ya, kita tahu ceritanya.
Pagi ini, Wall Street malam tadi ditutup menguat, S&P 500 naik 0,6%. Bursa Asia ikut dibuka positif, Nikkei dan KOSPI kompak menguat 1,6%. Pemicunya satu: PM Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan akan membuka diskusi dengan Lebanon pekan depan, sinyal deeskalasi yang sudah lama ditunggu pasar.
Minyak WTI sedikit terkoreksi pagi ini setelah melonjak 4,5% kemarin ke level US$98 per barel, menyusul Arab Saudi yang memangkas produksi akibat infrastruktur yang terdampak perang. Selat Hormuz masih sepi, pemilik kapal belum mau bergerak sebelum ada kepastian soal status gencatan senjata. Situasi bisa berubah cepat.
Malam ini, semua mata tertuju ke satu rilis: data inflasi AS bulan Maret. Konsensus memperkirakan kenaikan 1% secara bulanan, yang kalau terealisasi akan jadi lonjakan bulanan terbesar sejak 2022, kala perang Rusia-Ukraina memantik spiral harga energi yang berujung pada siklus kenaikan suku bunga global yang dampaknya kita semua rasakan sampai hari ini. Angka yang patut dicermati. Kalau realisasinya melampaui ekspektasi, narasi "Fed pivot" bisa dihajar balik.
Di level emiten, BBRI hari ini menggelar RUPST dengan agenda utama pembagian dividen. Manajemen mengusulkan total dividen tahun buku 2025 sebesar Rp52 triliun, setara 92% dividend payout ratio. Bukan angka kecil. Dividen final yang berpotensi dibagikan sebesar Rp206 per saham, atau yield sekitar 6,3% di harga sekarang.
EXCL punya cerita tersendiri. ARPU seluler di kuartal pertama 2026 diestimasi naik 4% secara kuartalan, cukup untuk mengerek pertumbuhan EBITDA hingga 24%. Ada potensi penyusutan pelanggan di awal tahun, tapi akselerasi integrasi jaringan yang ditarget rampung di kuartal ketiga 2026 diharapkan jadi penebus. Soal dampak gejolak geopolitik terhadap biaya operasional, manajemen meyakini masih bisa dikendalikan, setidaknya itu klaim mereka. EXCL tetap jadi pilihan utama di sektor telekomunikasi versi analis Indo Premier.
Dari agenda korporasi, hari ini ada IPO listing WBSA, serta RUPS sejumlah emiten termasuk YULE, BPFI, dan MPPA. Pekan depan, cumdate dividen tunai ADMF dan CNMA jatuh pada 14 April, diikuti BNLI dan ROTI pada 15 April.
Satu catatan: ZINC masih tersuspensi.
Malam ini inflasi AS yang akan menjawab apakah reli empat persen ini punya napas panjang, atau cuma relief rally yang menunggu katalis berikutnya untuk balik arah.