SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Meroket 4,4%, Gencatan AS-Iran Jadi Bahan Bak...

Bisnis

IHSG Meroket 4,4%, Gencatan AS-Iran Jadi Bahan Bakar Rally

IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279 pada Rabu (8/4), dipicu gencatan senjata AS-Iran dan konfirmasi status secondary emerging market Indonesia oleh FTSE Russell. Penguatan berlanjut tipis keesokan harinya meski ketidakpastian konflik Timur Tengah kembali menghantui pasar.

Rabu, 8 April 2026. IHSG meroket 308 poin atau 4,42% ke level 7.279, dalam salah satu hari terbaik bursa domestik sepanjang tahun ini.

Dua katalis datang bersamaan: pengumuman gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, plus konfirmasi FTSE Russell bahwa Indonesia tetap berstatus secondary emerging market dan tidak masuk watch list. Bak gayung bersambut, dua berita besar itu kompak mendorong selera beli investor.

Gencatan senjata diumumkan Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4) malam waktu AS. Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz selama dua pekan, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator. Negosiasi lanjutan dijadwalkan digelar di Islamabad pada 10 April. Israel ikut menyepakati perjanjian ini.

Dampak ke harga minyak? Brutal. Brent amblas lebih dari 13% ke kisaran US$94,3 per barel pada Rabu sore, sementara WTI turun sekitar 15% ke US$95 per barel. Bagi ekonomi Indonesia, ini kabar bagus ganda: tekanan fiskal berkurang karena asumsi harga minyak APBN yang sebelumnya terlampaui jauh kini kembali masuk akal.

Penguatan IHSG dipimpin saham-saham jumbo. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 23,5 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 20 poin, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 17,3 poin. Emas pun ikut naik 2,8% ke US$4.815 per troy ounce, mendukung sentimen positif di sektor logam. Rupiah menguat 0,55% ke level Rp17.010 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh all-time low.

Di sisi lain, saham energi jelas kena banting. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) masuk jajaran top loser dengan koreksi 4,6%, diikuti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turun 3,32% dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) 2,39%. Wajar. Penurunan tajam harga minyak membuat prospek pendapatan emiten hulu migas dan batu bara langsung tergerus.

Konfirmasi FTSE jadi pemanis tambahan. Dalam interim review April 2026, FTSE Russell mengapresiasi reformasi transparansi pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, persyaratan minimum free float, dan penguatan surveillance. Update berikutnya dijadwalkan sebelum review indeks Juni 2026.

Analis Phintraco Sekuritas melihat secara teknikal IHSG telah menembus level MA5 dan MA20 pascalonjakan Rabu, sehingga berpotensi menguji resistance di kisaran 7.300-7.350. Rekomendasinya mencakup BBNI, BBCA, UNVR, ISAT, dan ASII. MNC Sekuritas agak lebih berhati-hati, memproyeksikan IHSG bergerak variatif dengan best case melanjutkan penguatan ke 7.323-7.450.

Proyeksi itu terbukti separuh benar. Pada Kamis (9/4), IHSG ditutup menguat tipis 28 poin atau 0,39% ke posisi 7.307,59. Tapi pergerakan intraday tidak semulus kelihatannya. Indeks dibuka melemah, betah di zona merah sepanjang sesi pertama, baru berbalik hijau di sesi kedua.

Pemicunya: kekhawatiran bahwa gencatan senjata sudah mulai retak. Seorang pejabat senior Iran menyatakan beberapa elemen proposal telah dilanggar, menyusul serangan terbaru Israel ke Lebanon. Selat Hormuz pun dilaporkan masih sebagian besar diblokir Teheran. Harga minyak berbalik naik, WTI kembali ke US$97,44 per barel dan Brent ke US$97,77 per barel pada Kamis sore.

"Bursa Asia didominasi pelemahan, seiring harga minyak yang naik tipis di tengah ketidakpastian berkelanjutan terkait kesepakatan gencatan senjata," ungkap Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Nikkei terkoreksi 0,78%, Shanghai 0,73%, Kuala Lumpur 0,59%.

Faktor domestik menambah beban. Cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2026 turun ke US$148,2 miliar dari US$151,9 miliar di Februari, level terendah sejak Juli 2024. Tiga bulan berturut-turut merosot, ditekan intervensi Bank Indonesia untuk stabilisasi rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo bahkan mengingatkan bahwa ruang penurunan BI Rate kian sempit, dengan suku bunga SRBI yang kemungkinan perlu dinaikkan untuk membendung outflow.

Angka cadangan devisa itu, jujur saja, patut dicermati, meski secara nominal masih setara 6 bulan impor, jauh di atas patokan internasional 3 bulan.

Gencatan senjata dua pekan ini belum apa-apa. Iran sendiri menegaskan ini bukan akhir perang. Yang perlu dikawal investor dalam beberapa pekan ke depan: hasil negosiasi di Islamabad, realisasi pembukaan Selat Hormuz, dan update MSCI menjelang review Mei 2026. Kalau salah satu dari titik-titik itu meleset, volatility bisa kembali menghampiri lebih cepat dari perkiraan.