Ramai di media sosial, narasi yang mengaitkan fluktuasi IHSG harian dengan jadwal pidato Presiden Prabowo Subianto langsung dipatahkan BEI. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyebut klaim semacam itu tidak tepat, dan justru mengaburkan gambaran sesungguhnya tentang apa yang sedang terjadi di pasar.
Angka-angkanya bicara lebih keras. Sejak awal tahun, IHSG sudah ambles 31 persen ke bawah level 6.000. Pada perdagangan Senin (13/7/2026) siang, indeks masih stagnan di kisaran 5.900-an, nyaris tidak bergerak dibanding sepekan sebelumnya. Investor asing pun tak kunjung balik badan: net sell di pasar reguler dalam sepekan terakhir mencapai Rp 1,68 triliun, sehingga total outflow sejak Januari sudah genap Rp 90 triliun. Bukan angka kecil.
Menurut Jeffrey, biang keroknya bukan podium istana. Kebijakan tarif resiprokal AS yang sudah berlangsung lebih dari setahun, konflik Rusia-Ukraina yang tidak kunjung usai, ketegangan di Timur Tengah yang kian panas, hingga sikap wait and see pasar terhadap arah suku bunga The Fed, semuanya menghantam sentimen sekaligus. "Dinamika-dinamika global itu yang justru berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar, ketimbang hal-hal lain yang tadi disampaikan," tegasnya saat ditemui di Gedung BEI.
Soal korelasi politik dan pasar, Jeffrey menarik garis sejarah. Di era 1980-an, hubungan keduanya memang erat. Seiring maturasi sistem ekonomi dan demokrasi Indonesia, korelasi itu terus melemah, mengikuti pola yang sudah lebih dulu terjadi di pasar-pasar maju seperti AS. "Kalau kami melihat dari waktu ke waktu, korelasi antara aktivitas politik dan keputusan investasi itu semakin berkurang. Di Indonesia trennya juga seperti itu dan sudah berlangsung cukup lama," kata Jeffrey. Agaknya, investor sekarang lebih takut pada keputusan di podium The Fed ketimbang pernyataan presiden di dalam negeri.
Gejolak rupiah memperkuat tesis itu. Rp 18.100 per dolar AS hari ini, nyaris menyentuh kembali rekor terburuk Rp 18.197 yang sempat dicapai awal Juni lalu. Pengamat komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, mencatat pelemahan ini terjadi serentak di hampir seluruh mata uang Asia, berbarengan dengan indeks dolar DXY yang masih bertahan di level 100.
Katalisnya jelas: AS melancarkan serangan keempat dalam seminggu terhadap Iran pada Minggu (12/7), sebagai respons atas serangan Iran ke kapal kontainer berbendera Siprus. Teheran merespons dengan mengklaim Selat Hormuz akan ditutup, meski pernyataan itu segera dibantah Komando Pusat AS. Hasilnya, harga minyak mentah dunia langsung melonjak sekitar 4 persen ke atas 74 dolar AS per barel. Selat yang mengalirkan sekitar 20 persen suplai minyak global itu kembali menjadi pusat kekhawatiran pasar.
Lukman memperkirakan rupiah pekan ini bergerak volatile di rentang Rp 18.050-Rp 18.150. Investor masih menunggu data inflasi konsumen dan produsen AS, plus pidato Ketua The Fed Kevin Warsh.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi memilih membingkai situasi ini dengan hati-hati. Ia akui nilai transaksi harian rata-rata memang turun, tapi justru menunjuk data yang lebih panjang: rata-rata nilai transaksi harian BEI sepanjang 2026 sudah melampaui Rp 24 triliun per hari, jauh di atas rekor tahun lalu yang berada di kisaran Rp 18 triliun. "Kalau dilihat dalam horizon yang lebih panjang, kami tetap optimistis karena rata-rata nilai transaksi harian tahun ini justru mencatatkan peningkatan," ujar Hasan.
Hasan juga menegaskan pasar belum memasuki kondisi one-sided market karena bid-ask spread masih efisien dan order beli maupun jual tetap mengalir. OJK dan BEI, katanya, sedang membenahi struktur pasar secara sistematis, mulai dari transparansi kepemilikan saham emiten hingga mendorong kenaikan free float, sebagian untuk menjawab tekanan dari investor global dan penyedia indeks internasional. "Kami ingin memberikan respons yang terukur terhadap berbagai perhatian investor. Semua langkah ini dilakukan secara sistematis dan komprehensif," ujarnya.
Pertanyaannya, apakah pembenahan struktural itu cukup cepat untuk menahan laju outflow yang sudah Rp 90 triliun dalam tujuh bulan?