Pekan lalu menjadi pekan yang menyakitkan bagi pasar saham Indonesia, dan lebih-lebih bagi para pemilik kekayaan yang sebagian besar tersimpan dalam bentuk saham.
Pada penutupan Jumat, 5 Juni 2026, IHSG kehilangan 245 poin atau ambles 4,20 persen ke level 5.594,77. Kalau dihitung dari awal pekan, koreksinya mencapai 8,69 persen. Angka yang tidak bisa disebut sekadar koreksi teknikal biasa.
Prajogo Pangestu, yang baru saja kembali merebut posisi konglomerat terkaya Indonesia sepekan sebelumnya, langsung merasakan dampaknya. Kekayaan bersihnya tergerus seiring kejatuhan saham-saham di bawah kendalinya. Bukan sendirian: Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources, dan Anthoni Salim dari Grup Salim juga kena tampar hal yang sama. Total penurunan kekayaan ketiga konglomerat ini bisa mencapai puluhan triliun rupiah, mengikuti irama amblesnya harga saham masing-masing emiten yang mereka kendalikan.
Yang membuat pasar sulit bernapas bukan sekadar angka indeksnya, tapi karakteristik penurunannya. Nilai transaksi harian sempat menembus Rp31 triliun, tinggi secara nominal, tapi lebih banyak diwarnai aksi distribusi ketimbang akumulasi. Artinya, yang dominan bukan investor masuk, melainkan investor keluar. Setiap kali muncul harapan pembalikan, tekanan jual datang lagi dan IHSG semakin menjauh dari level psikologis yang ditunggu-tunggu.
Secara teknikal, IHSG masih diperkirakan berada pada wave (v) dari wave [v] dari wave 5. Fase ini, bagi yang familiar dengan Elliott Wave, sering menjadi akhir tren turun, tapi sekaligus periode dengan volatilitas paling intens. Masih ada ruang bagi indeks untuk meneruskan koreksi menuju area 5.395 hingga 5.412, zona yang menarik karena bertepatan dengan gap yang belum tertutup sekaligus mendekati posisi Moving Average 200 bulanan. Fondasi baru, kalau terbentuk, agaknya baru akan solid setelah pasar menyelesaikan fase ini.
Pendekatan selektif jauh lebih masuk akal dibanding agresif masuk sembarangan. MNC Sekuritas, dalam riset terbarunya, memetakan empat saham yang masih layak dicermati dengan strategi masing-masing.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terkoreksi tipis 0,36 persen ke 2.750. Secara teknikal, saham ini diperkirakan baru memasuki awal wave 4 dari wave (C), koreksi yang lebih menyerupai konsolidasi ketimbang perubahan tren. Area 2.690 hingga 2.740 menjadi zona buy on weakness yang menarik, dengan target 3.020 hingga 3.200 jika level tersebut bertahan. Stop loss di bawah 2.630.
Berbeda dengan ANTM, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menarik perhatian bukan dari sisi harga, melainkan dari aksi para petinggi perusahaan. Direksi tercatat mulai mengakumulasi saham di kisaran 500 hingga 580 saat harga sedang tertekan. Harga kini di 510. Sinyal insider buying ini positif, meski asing belum menunjukkan akumulasi yang konsisten. Zona masuk ada di 494 hingga 510, target 610 hingga 660, stop loss di bawah 482.
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) punya dukungan konsensus yang kuat: 14 dari 16 analis merekomendasikan buy dengan target harga rata-rata Rp817, jauh di atas harga pasar saat ini di 434. Tapi, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, mengapa harga belum bergerak? Tekanan offer masih sedikit lebih besar dari bid. Strategi yang lebih rasional adalah menunggu area 390 hingga 418 sebelum akumulasi bertahap, dengan target 472 hingga 520 dan stop loss di bawah 374.
Satu-satunya saham yang bergerak berlawanan arah adalah DAAZ, yang melesat 7,60 persen ke 1.840 dengan dukungan net foreign buy. Justru di sini investor yang sudah profit perlu waspada. DAAZ diperkirakan berada di wave 5 dari wave (C), fase penutup tren naik sebelum koreksi lebih dalam. Sell on strength di area 1.930 hingga 2.070 jauh lebih bijak dibanding ikut-ikutan euforia.
Pasar belum memberikan sinyal bahwa tekanan jual benar-benar berakhir. Pertanyaannya, berapa lama fase ini masih berlangsung? Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, keberanian bukan berarti beli semua yang turun. Terkadang, diam menunggu titik akumulasi yang tepat justru strategi yang paling menguntungkan.