RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Lagi Murah, Tapi Rupiah dan Suku Bunga Tetap...

Bisnis

IHSG Lagi Murah, Tapi Rupiah dan Suku Bunga Tetap Jadi Penentu

Samuel Sekuritas melihat valuasi IHSG sudah mendekati level terendah 10 tahun, namun pemulihan bergantung pada dua prasyarat: stabilisasi rupiah dan arah suku bunga BI.

Samuel Sekuritas: Suku bunga dan rupiah jadi kunci pemulihan IHSG

Trailing P/E IHSG saat ini bertengger di sekitar 14,2 kali. Posisinya sudah mendekati level terendah satu dekade terakhir, yakni 12,5 kali, dan jauh di bawah rata-rata 10 tahun yang ada di 20,6 kali. Saham-saham Indonesia, singkatnya, sedang dijual nyaris di obral.

Tapi murah belum tentu langsung naik. Itu pesan utama yang dibawa Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, dalam acara Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia pekan ini. Valuasi sudah menarik, ia akui. Tapi pemulihan IHSG, tegasnya, butuh dua prasyarat yang belum sepenuhnya terpenuhi: stabilisasi rupiah dan pelonggaran suku bunga.

"Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga," kata Shim.

Korelasinya cukup telak. Rupiah loyo, IHSG terseret. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik, pasar saham kena tampar. Shim menyebut korelasi negatif antara dua variabel itu dengan pergerakan indeks terbilang kuat. Imbal hasil yang kini parkir di kisaran 7 persen, menurut Shim, secara teoritis masih bisa tergerus ke 6 persen jika dibandingkan dengan inflasi negara-negara berperingkat BBB yang setara.

Kabar agak melegakan datang dari pembacaan Shim soal rupiah. Ia memperkirakan tekanan terhadap mata uang itu telah melewati puncaknya di semester I-2026. Kalau memang begitu, alasan BI mempertahankan suku bunga di level tinggi pun kian tipis. Pelaku pasar sendiri mulai memperkirakan BI tidak akan melanjutkan kenaikan suku bunga hingga kuartal IV-2026 dan sepanjang 2027. "Namun demikian, arah kebijakan tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah," ujar Shim.

Dari sisi likuiditas, kondisinya tidak buruk. Uang beredar M2 Indonesia tercatat Rp10.371 triliun, tumbuh 8 persen secara tahunan. Bukan angka kecil. "Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat," kata Shim. Bisa jadi ini yang membuat ia yakin soal kecepatan pemulihan begitu katalis muncul.

Sejak Juni 2026, investor asing tercatat mulai kembali membeli obligasi dan saham Indonesia. Pelemahan dolar AS agaknya menjadi pendorong rotasi dana ke aset pasar berkembang, dan Indonesia ikut kebagian.

Dengan latar itu, Samuel Tumbuh Bersama merekomendasikan investor mulai memangkas porsi kas dan berani menggeser alokasi ke aset berisiko. Komposisi yang disarankan: saham 40 persen, fixed income 40 persen, kripto 10 persen, emas 5 persen, kas hanya 5 persen. Untuk pilihan saham, fokus diarahkan ke non-MSCI blue chips. Di sisi obligasi, tenor pendek masih jadi andalan.

Pertanyaan yang tersisa: seberapa cepat dua prasyarat itu terpenuhi? Selama rupiah belum stabil dan BI belum memberi sinyal lebih jelas, potensi V-shape recovery yang dibicarakan Shim hanya akan tetap jadi potensi. Entah kebetulan atau tidak, pasar sendiri seperti sedang menunggu jawaban yang sama.