Sepanjang sesi pertama Rabu (3/6), IHSG dihajar tekanan jual yang tidak kenal ampun. Indeks sempat menyentuh titik terendah di 5.995, sebelum sedikit membaik ke kisaran 5.950, turun hampir 4% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Angka ini bukan sekadar koreksi biasa. IHSG kini resmi menembus ke bawah level psikologis 6.000, benteng pertahanan terakhir sebelum zona bahaya berikutnya terbuka lebar. Secara year to date, indeks sudah amblas 28,35% dari awal tahun, dengan investor asing mencatatkan net sell kumulatif Rp64,82 triliun.
Tekanan terdistribusi merata. Dari lebih dari 800 saham yang bergerak, sekitar 648 mencatat penurunan harga, sementara hanya 70 yang berhasil menguat. Nilai transaksi tembus Rp10,71 triliun dengan volume 18,4 miliar lembar saham. Bukan angka kecil, bahkan untuk hari yang berat sekalipun.
Di jajaran LQ45, kondisinya agaknya lebih parah dari yang tecermin di indeks utama. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi korban paling dalam, sahamnya dihajar sampai batas ARB alias Auto Rejection Bawah, minus 14,91% dalam hitungan jam. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyusul dengan koreksi sekitar 6,5%. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), saham dengan kapitalisasi terbesar di bursa, pun tak luput, tergerus 3%. Dari seluruh konstituen LQ45, hanya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang mampu bertahan di zona hijau. Satu lawan empat puluh empat.
Rupiah ikut terpeleset. Di pasar spot pagi ini, mata uang Garuda terdepresiasi 0,45% ke level Rp17.919 per dolar AS, melemah 80 poin dari posisi sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI pun ikut amblas ke Rp10.540 triliun.
Alrich, analis ekuitas Phintraco Sekuritas, menyebut tembusan di bawah 6.000 sebagai sinyal bearish continuation yang perlu diwaspadai. "Jika close di bawah 6.000, waspadai pelemahan lanjutan ke support area berikutnya di 5.900 dan 5.750," ungkapnya dalam catatan kepada investor. Level pivot IHSG saat ini ia taruh tepat di 6.000, dengan resistance terdekat di 6.200.
Yang membuat situasi ini terasa lebih getir, bursa-bursa lain di kawasan justru melaju. TWSE Taiwan menguat 2,03%, PCOMP Filipina naik 1,59%, SET Thailand naik 1,26%. Jakarta berjalan sendiri ke arah berlawanan, dan untuk kesekian kalinya menyandang predikat yang tidak ingin disandang siapa pun: indeks terburuk di kawasan emerging market Asia. Entah kebetulan atau tidak, ini bukan kali pertama pola semacam ini muncul jelang akhir kuartal.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah IHSG bisa bertahan di 6.000, tapi seberapa dalam koreksi ini masih akan berlanjut sebelum ada yang berani masuk lagi.