IHSG kemarin sudah memberi sinyal. Ditutup melemah 34,23 poin atau 0,55% ke level 6.220,74, indeks masuk zona yang para analis sebut "menunggu", bukan zona bergerak.
Wall Street rontok Rabu malam setelah pasar mencerna hasil rapat perdana Federal Reserve di bawah Ketua baru Kevin Warsh. Nadanya lebih hawkish dari perkiraan, cukup untuk memukul ekuitas AS. Efek rambatannya ke Bursa Efek Indonesia, entah kebetulan atau tidak, sudah terasa sejak sesi penutupan kemarin.
Kini giliran tiga agenda besar yang mengantri. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini diperkirakan menghasilkan kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,75%. Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, keputusan BI Rate pekan ini akan menjadi penentu nilai tukar rupiah serta arus modal asing jangka pendek bagi Indonesia. Satu variabel yang paling diburu investor asing sebelum mereka memutuskan masuk atau keluar.
Besok, Jumat (19/6), dua peristiwa lain menunggu: MSCI Global Market Accessibility Review dan rebalancing indeks FTSE. Keduanya berpotensi memicu pergerakan tajam di saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk radar investor institusi global. Sepekan kemudian, Rabu (24/6), MSCI Annual Market Classification Review dijadwalkan berlangsung. Agenda rutin yang selalu diikuti manajer investasi asing dengan tegang.
Gambaran teknikalnya tidak terlalu menggembirakan. CGS International Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak bervariasi cenderung melemah, dengan support di 6.110 dan 6.000, serta resistance di 6.330 dan 6.445. Phintraco Sekuritas membaca serupa: indikator MACD masih membentuk histogram positif, tapi Stochastic RSI sudah membentuk death cross di area overbought. Kombinasi itu membuat Phintraco memperkirakan indeks bergerak sideways melemah di kisaran 6.100 hingga 6.350.
BRI Danareksa lebih konservatif. Support yang mereka jaga ada di 6.071 hingga 5.931, resistance di 6.300 sampai 6.350. Selama IHSG bertahan di atas area support, tren rebound jangka menengah masih terjaga, meski volatilitas diyakini akan meningkat menjelang berbagai agenda pasar pekan ini. Bukan kondisi yang nyaman untuk posisi baru.
Meski sentimen hati-hati mendominasi, sejumlah sekuritas tetap merekomendasikan saham pilihan untuk trading harian. MNC Sekuritas menyebut PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebagai Trading Buy dengan target harga 1.470 dan 1.535, area beli di 1.305 hingga 1.380. AMRT dinilai masih didominasi volume pembelian dan bergerak di antara MA20 dan MA60. Untuk PT Timah Tbk (TINS) yang kemarin terkoreksi 1,72% ke 3.540, MNC merekomendasikan Buy on Weakness di 3.130 sampai 3.380 dengan target 3.710 dan 3.940.
Dua rekomendasi lain dari MNC justru mengarah ke sisi jual. PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) sama-sama masuk daftar Sell on Strength. INKP, yang kemarin ditutup di 7.650, dinilai rawan melanjutkan koreksi menguji level 6.050 hingga 6.525.
Paradoks pasar hari ini. Sebagian analis bilang hati-hati, sebagian lain masih kasih rekomendasi beli. Untuk investor ritel, agaknya pilihan paling waras cukup satu: tunggu hasil RDG BI sore ini sebelum ambil posisi apapun.