IHSG akhirnya napas usai dihajar koreksi sepanjang pekan lalu. Indeks ditutup menguat tipis 0,22% ke posisi 6.971,95 pada perdagangan Senin (4/5/2026), bergerak sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang juga menguat hari itu.
Nilai transaksi terbilang ramai. Rp21,17 triliun berpindah tangan dalam 2,44 juta kali transaksi yang melibatkan 60,32 ribu saham. Meski begitu, pasar belum sepenuhnya kondusif: 357 saham masih menutup sesi di zona merah, lebih banyak dari yang berhasil naik (327 saham), sementara 134 lainnya diam di tempat.
Satu catatan penting dari sisi aliran modal: asing secara agregat masih net buy Rp1,92 triliun di seluruh pasar. Angka yang tidak kecil. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, gambaran lengkapnya tidak sesederhana itu.
Di pasar negosiasi dan tunai, asing justru tercatat melakukan penjualan bersih Rp791,28 miliar, sementara pembelian bersih di kanal yang sama menembus Rp2,71 triliun. Ada aksi jual dan beli besar-besaran yang terjadi bersamaan, dengan beberapa nama emiten yang tampil di kedua sisi daftar sekaligus.
Pada sisi beli, PT Timah Tbk (TINS) memimpin dengan net foreign buy Rp91,70 miliar. Di belakangnya ada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) senilai Rp74,09 miliar, kemudian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp41,98 miliar, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp41,07 miliar. Masuk radar beli asing juga: PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp31,46 miliar, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp28,29 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp21,43 miliar, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) Rp15,50 miliar, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) Rp14,02 miliar, dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) Rp12,93 miliar.
Sisi jual? Justru lebih menarik dicermati.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) paling banyak dilego, net foreign sell-nya tembus Rp316,82 miliar. Jauh di atas yang lain. Disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp172,79 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp147,33 miliar. Dua nama perbankan besar yang biasanya jadi andalan portofolio asing itu justru dilepas saat indeks sedang mencoba bangkit, sinyal yang agaknya layak dicermati lebih serius.
Nama-nama lain yang ikut di daftar merah: PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp114,62 miliar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp65,19 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp53,21 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp40,08 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp33,94 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp33,60 miliar, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp23,63 miliar.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mencermati bahwa penguatan IHSG kemarin ditopang sentimen regional yang lebih kondusif, bukan katalis internal yang kuat. Bak gayung bersambut dengan mood Asia, tapi fondasi dari dalam negeri belum benar-benar pulih.
Satu angka yang tidak boleh diabaikan: sejak awal tahun, IHSG masih terkoreksi 20,30%. Pemulihan sehari sebesar 0,22% jelas belum cukup menutup lubang itu. Keesokan harinya pun indeks langsung dibuka melemah 3,38 poin atau 0,05% ke posisi 6.968,57, sementara LQ45 tergelincir 0,12% ke 673,76. Volatilitas belum pergi.