MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Ambles 14,91%, Terburuk di ASEAN di Tengah An...

Bisnis

IHSG Ambles 14,91%, Terburuk di ASEAN di Tengah Ancaman Degradasi MSCI

IHSG ditutup di level 5.185 setelah ambles hampir 15 persen dalam sepekan, menjadikan bursa Indonesia paling terpukul di kawasan ASEAN, sementara ancaman penurunan status MSCI dari emerging market ke standalone membayangi.

Kapitalisasi pasar BEI lenyap Rp1.544 triliun hanya dalam lima hari perdagangan. Angka yang sulit diabaikan, bahkan bagi yang sudah terbiasa dengan volatilitas bursa domestik.

Sepanjang pekan 12-16 Oktober 2026, IHSG mencatat salah satu koreksi mingguan terdalam dalam sejarah bursa domestik, ambles 14,91% dari level 6.093,76 ke posisi 5.185,10. Nilai kapitalisasi pasar BEI ikut terseret, turun 14,43% menjadi Rp9.157 triliun dari Rp10.701 triliun sepekan sebelumnya. Jumat pagi, perdagangan sempat dihentikan sementara pukul 08.58 JATS setelah IHSG menyentuh penurunan intraday 8 persen.

Bandingkan dengan bursa-bursa tetangga: PSEi Filipina justru menguat 1,43%, STI Singapura naik tipis 0,25%, KLCI Malaysia hanya terkoreksi 0,04%. SET Thailand dan VN-Index Vietnam yang juga melemah pun cuma turun 0,29% dan 1,68%. Koreksi IHSG bukan sekadar lebih dalam. Beda kelas.

Katalisnya sudah diketahui pasar. Kamis (15/10/2026), MSCI mengumumkan tengah mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market, level yang menempatkan Indonesia satu kelompok dengan Zimbabwe, Bulgaria, Argentina, dan Lebanon. Keputusan itu, berdasarkan laporan Reuters, dipicu kekhawatiran berkelanjutan soal kelayakan investasi dan tata kelola pasar ekuitas Indonesia. Ancaman yang lama beredar di kalangan fund manager asing akhirnya mendapat konfirmasi resmi.

Dampaknya langsung terasa di saham-saham berkapitalisasi jumbo. BBCA tergerus 14,46% dan menyumbang koreksi 79,68 poin terhadap IHSG, disusul BBRI yang amblas 14,84% dengan kontribusi negatif 67,74 poin. BMRI bahkan lebih parah, melemah 16,09% dan menekan indeks 51,81 poin. Gabungan ketiganya sudah menggerus hampir 200 poin dari IHSG. Belum dihitung DSSA yang dihajar 36,73%, BREN minus 31,30%, dan TLKM yang tergerus 18,10%.

Tekanan asing terus berlanjut. Investor asing membukukan net sell Rp3,19 triliun dalam sepekan, naik dari Rp2,45 triliun pekan sebelumnya. Sepanjang 2026, total nilai jual bersih asing sudah menembus Rp88,19 triliun. Bukan sekadar profit-taking musiman, kalau data ini bisa dipercaya.

Di balik kepanikan, ada secuil anomali. Sejumlah saham lapis kecil justru melesat. BIKE memimpin top gainers dengan lonjakan 96,26% ke Rp4.200, diikuti TFCO yang melejit 94,17% ke Rp2.000. BSWD menjadi penggerak terbesar IHSG dengan kontribusi positif 1,31 poin. Entah kebetulan atau tidak, lonjakan saham-saham berlapis kecil seperti ini di tengah ARB massal big cap kerap memunculkan pertanyaan tersendiri di kalangan pelaku pasar.

Salah satu saham yang kena imbas geger MSCI adalah TKIM, terkoreksi hingga 14% sepekan. Ironisnya, justru di momen ini RHB Sekuritas menaikkan proyeksi laba TKIM untuk 2026 sebesar 24,8% menjadi US$368 juta, ditopang keuntungan selisih kurs dan ekspansi kapasitas pulp anak usahanya, OKI. Target harga dipatok Rp13.400 dari harga terakhir Rp6.050, mencerminkan potensi upside 121%. Bagi investor yang tahan banting, agaknya koreksi ini bisa dibaca sebagai kesempatan.

Pertanyaan yang kini menggantung: seberapa cepat BEI bisa meyakinkan MSCI bahwa tata kelola bursa Indonesia layak dipertahankan di posisi emerging market? Jawaban atas pertanyaan itu, lebih dari faktor lain manapun, yang akan menentukan arah IHSG dalam beberapa bulan ke depan.