SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Agustus Cetak 4,6%, September Dibayangi Hawki...

Bisnis

IHSG Agustus Cetak 4,6%, September Dibayangi Hawkish Fed

Indeks Harga Saham Gabungan keluar dari Agustus dengan kenaikan lebih dari 4,6 persen, namun awal September langsung disambut ancaman hawkish dari pejabat The Fed dan rebalancing indeks global.

Daftar Saham Tercuan dan Terboncos Agustus 2026, Ada Saham BAIK - Market

Agustus 2026 jadi bulan yang lumayan melegakan bagi investor saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.518 pada akhir perdagangan 28 Agustus, mencatat penguatan 4,52 persen sepanjang bulan. Bukan angka biasa: ini sudah dua bulan berturut-turut indeks mencetak gain, setelah sempat dihajar hingga ke dasar 5.317 pada Juni lalu.

Selama periode itu, lima saham berhasil menggandakan modal investornya, dengan yang paling moncer mencetak return hingga 187 persen dalam satu bulan. Sementara saham lain yang sempat ramai diperbincangkan justru amblas 65 persen. Pasar, seperti biasa, tidak pernah memberi jalan lurus ke semua orang.

Efek rebound ini agaknya sudah cukup kuat untuk mengubah struktur teknikal jangka panjang. Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menilai penguatan dua bulan beruntun ini sebagai konfirmasi kembalinya buying bias di pasar. "Kepercayaan pelaku pasar kembali pulih seiring meredanya sentimen ketidakpastian domestik," katanya pada 31 Agustus lalu.

Dari dalam negeri, beberapa katalis menopang momentum. Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia sudah mengantongi persetujuan Komisi XI DPR, memberikan kepastian arah kebijakan moneter. BI sendiri mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, keputusan yang terbukti efektif menjaga rupiah tetap relatif stabil. Bahkan ketika aksi unjuk rasa memicu koreksi cukup dalam pada 26 Agustus, pasar balik badan dengan rebound 1,81 persen sehari setelahnya. Cepat sekali.

September tidak datang dengan tangan kosong. Pejabat The Fed Kevin Warsh mengirimkan sinyal hawkish yang cukup tegas, mengisyaratkan suku bunga AS bisa bertahan tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar. Pemicunya: inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) AS masih nangkring di 3,7 persen secara tahunan, jauh di atas target 2 persen. Pertanyaannya, berapa lama investor global, termasuk yang parkir dana di Bursa Efek Indonesia, bisa tenang menghadapi tekanan ini?

Belum lagi aksi rebalancing indeks MSCI dan FTSE Russell, yang berpotensi menciptakan volatilitas transaksi harian. Bagi trader jangka pendek, ini bak medan ranjau yang harus dilintasi dengan hati-hati.

Secara teknikal, IPOT memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang Neutral to Bullish pekan ini. Selama indeks mampu bertahan di atas support 6.454, peluang breakout menuju resistance 6.537 dan kemudian target 6.822 masih terbuka. Kalau support itu jebol, ceritanya bisa berbeda.

Untuk strategi, IPOT merekomendasikan akumulasi bertahap pada saham-saham berbasis smart money dan uptrend teknikal. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) masuk daftar dengan rekomendasi beli di level Rp10.225, target Rp10.525, dan stop loss Rp10.050, didukung akumulasi smart money hingga Rp112,1 miliar dalam sepekan. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) direkomendasikan beli di Rp25.650 dengan target Rp26.425 dan stop loss Rp25.375, bergerak konsisten di atas indikator EMA. Satu lagi, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dengan level beli Rp8.050, target Rp8.300, dan stop loss Rp7.900, ditopang akumulasi asing yang masih berjalan.

Kinerja Agustus sudah terbukti. Apakah September punya amunisi yang cukup untuk melanjutkan reli, atau pasar sudah terlalu cepat berlari?