JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  HP 2-3 Jutaan Terbaik Mei 2026: OIS, Gaming Gahar,...

Tekno

HP 2-3 Jutaan Terbaik Mei 2026: OIS, Gaming Gahar, Baterai yang Tidak Kenal Ampun

Pasar smartphone kelas menengah bawah makin sengit. Di rentang harga dua hingga tiga juta rupiah, kini ada OIS, AMOLED 144 Hz, hingga kamera 200 MP yang dulu hanya milik flagship.

Dua hingga tiga juta rupiah. Tiga tahun lalu angka ini cukup untuk beli ponsel biasa saja. Sekarang, bisa bawa pulang perangkat dengan spesifikasi yang bikin pengguna lama garuk-garuk kepala.

Mei 2026 ramai di segmen ini. Poco, Motorola, Redmi, Tecno, Infinix, Vivo, semuanya seperti kena bisikan yang sama: dorong fitur premium ke bodi yang harganya masih dalam jangkauan pelajar dan pekerja muda.

Di kelas tiga jutaan, Poco X7 5G agaknya jadi yang paling susah disaingi untuk urusan keseimbangan. Chipset Dimensity 7300, layar AMOLED 1.5K 120 Hz, kamera 50 MP Sony IMX882 lengkap dengan OIS. Ditambah sertifikasi IP68/IP69, ponsel ini bahkan tidak takut hujan. Bukan main.

Redmi Note 14 Pro 5G bermain di sudut yang berbeda: kamera 200 MP jadi senjata utamanya. Angka yang, jujur saja, masih terasa absurd untuk harga segini. Performa solid untuk gaming menengah, meski bagi yang lebih banyak nge-game, pilihan lain mungkin lebih tepat.

Infinix GT30 5G Plus tidak perlu banyak basa-basi soal positioningnya. Dimensity 7400 di dalamnya melibas multitasking berat tanpa kedip, didukung RAM 8 GB dan storage 256 GB UFS 2.2. Layar AMOLED 1.5K 144 Hz membuat scrolling dan sesi gaming terasa mulus. Kamera 64 MP-nya kompeten, tapi jelas bukan prioritas utama di sini.

Motorola datang dengan dua jurus berbeda. G67 Power bertaruh pada baterai 7.000 mAh plus Snapdragon 7s Gen series dan kamera 50 MP berfitur OIS, cocok untuk pengguna yang lebih banyak di luar. G86 Power memilih jalur kamera dengan sensor Sony pada kamera utamanya, menghasilkan foto tajam dan minim noise. Keduanya, entah kebetulan atau tidak, mengisi celah yang paling sering dikeluhkan pengguna kelas menengah: baterai jebol di sore hari dan foto malam yang penuh bintik.

Tecno Camon 50 4G membuktikan bahwa sensor Sony bukan monopoli merek-merek besar. Kamera 50 MP dengan sensor Sony, layar AMOLED 1.5K 144 Hz, baterai 6.500 mAh. Bagi pengguna yang fokus di fotografi harian, ini salah satu opsi terkuat di kelasnya.

Turun ke kelas dua jutaan, persaingan justru makin brutal.

Vivo iQOO Z9x 5G mencetak skor AnTuTu 712 ribu berbekal Snapdragon 6 Gen 1. Setahun lalu angka itu hanya ada di ponsel setengah flagship. PUBG Mobile berjalan di setting smooth ultra, stabil. Infinix Note 50 X 5G Plus bahkan melampaui 720 ribu di AnTuTu dengan Dimensity 7300 Ultimate, sanggup mendorong Mobile Legends hingga 90 fps di pengaturan penuh.

Techno Pova Curve 5G menawarkan nilai estetika yang tidak biasa di kelas ini: layar AMOLED lengkung 6,78 inci dengan refresh rate 144 Hz dan skor AnTuTu 684 ribu. Kalau data ini bisa dipercaya, ini salah satu layar paling enak dipandang di rentang harganya.

Nubia Neo 3 5G masuk dengan fitur yang satu ini tidak banyak pesaingnya: shoulder trigger fisik, seperti tombol di controller sungguhan. Buat gamer kompetitif, bukan gimmick. Skor AnTuTu-nya 479 ribu dengan Unisoc Tiger T8300, memang bukan yang paling kencang, tapi pengalaman main terasa beda.

Soal baterai di kelas dua jutaan, hampir semua model datang di kisaran 5.000 hingga 6.000 mAh, sebagian sudah mendukung fast charging 45 watt. Sesi gaming lebih panjang. Waktu nunggu ngecas lebih pendek.

RAM 12 GB dan storage 512 GB pun mulai masuk ke rentang harga yang sama. Kreator konten yang menumpuk footage, atau gamer yang menginstal banyak judul besar sekaligus, kini tidak perlu naik kelas untuk mendapatkannya.

Pasarnya sudah bergeser. Yang dulu jadi kelebihan flagship, hari ini jadi standar.