Wall Street akhirnya tersandung juga.
Setelah berhari-hari berpesta di level rekor, indeks-indeks utama AS kompak ditutup melemah pada Senin (4/5) waktu setempat. Bukan data ekonomi yang jadi pemicunya. Bukan pula komentar Fed. Kali ini pasar dihajar kabar dari perairan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang memikul sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Laporan ledakan pada kapal dagang Korea Selatan di selat itu menyebar cepat ke lantai bursa. Iran dilaporkan memaksa kapal perang AS berbalik arah saat hendak memasuki kawasan tersebut. Fasilitas minyak Uni Emirat Arab kebakaran akibat serangan drone Iran. Eskalasi dalam hitungan jam, dan pasar tidak menunggu konfirmasi lebih lanjut.
S&P 500 terkoreksi 0,41 persen ke 7.200,75, mundur dari rekor yang baru saja ditorehkan beberapa hari sebelumnya. Dow Jones Industrial Average lebih dalam amblas, tergerus 1,13 persen ke 48.941,90. Nasdaq relatif lebih tahan banting, turun tipis 0,19 persen ke 25.067,80.
Sepuluh dari 11 sektor S&P 500 memerah. Sektor material paling babak belur, minus 1,57 persen, disusul sektor industri yang tergerus 1,17 persen. Satu-satunya yang bisa senyum malam itu: sektor energi, naik 0,85 persen, bak gayung bersambut dengan lonjakan kekhawatiran pasokan minyak global.
Rasio saham yang turun terhadap yang naik di S&P 500 mencapai 2,2 banding 1. Volume perdagangan lesu, hanya 16,3 miliar saham berpindah tangan, di bawah rata-rata 20 hari sebesar 17,7 miliar. Pasar pilih hati-hati.
"Dengan pasar berada di level tertinggi sepanjang masa, ruang kesalahan sangat sempit. Risiko besar cenderung masih ke arah penurunan, meski kemungkinan perang besar mungkin bukan skenario utama," kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird Private Wealth Management.
Ironis, sebetulnya. Musim laporan keuangan kali ini, jujur saja, di luar ekspektasi siapapun. Perusahaan-perusahaan dalam S&P 500 diperkirakan membukukan pertumbuhan laba agregat 28 persen secara tahunan di kuartal pertama, dua kali lipat dari proyeksi awal April yang hanya 14 persen. Data LSEG mencatat lonjakan ini sebagian besar ditopang perusahaan teknologi berbasis AI. Fundamental kuat, tapi geopolitik yang mendidih tidak peduli soal itu.
Di sisi korporasi, ada beberapa yang layak dicermati. Berkshire Hathaway kembali jadi net seller saham, sudah 14 kuartal berturut-turut. Bagi veteran pasar, ini cermin retak dari valuasi yang terlampau tinggi. GameStop anjlok 10 persen setelah mengajukan rencana akuisisi eBay senilai sekitar USD 56 miliar dalam skema tunai dan saham, sebuah langkah yang membuat tidak sedikit investor mengernyitkan dahi. FedEx dan UPS masing-masing amblas 9,1 persen dan 10,5 persen setelah Amazon membuka jaringan logistiknya untuk pihak ketiga lewat layanan Amazon Supply Chain Services.
Trump sempat sesumbar Angkatan Laut AS akan membuka paksa akses Selat Hormuz. Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan, mengingat Iran menunjukkan niat sebaliknya.
Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh eskalasi ini akan berlanjut sebelum pelaku pasar benar-benar angkat tangan dan potong eksposur?