Harga minyak mentah Brent melesat ke USD 97,05 per barel pada sesi perdagangan Rabu (3/6/2026), naik lebih dari satu persen dalam hitungan jam setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain. WTI menyusul ke USD 94,77 per barel. Angka-angka itu bukan sekadar pergerakan harian biasa. Di baliknya ada konflik tiga bulan yang belum juga menemukan titik terang.
Serangan rudal Iran itu, meski dilaporkan gagal mengenai sasaran utama, langsung dibalas pasukan AS yang menghantam fasilitas militer di Pulau Qeshm. Siklus aksi-reaksi terus berputar. Perundingan damai antara Teheran dan Washington mandek: Iran mengklaim tidak ada komunikasi diplomatik yang berjalan selama beberapa hari terakhir, sementara Trump di depan publik masih menyebut negosiasi sedang berlangsung. Siapa yang benar? Pasar tidak peduli. Yang mereka tahu, Selat Hormuz masih penuh ranjau.
Daniel Hynes, Senior Commodity Strategist ANZ Bank, menyebut upaya membuka kembali jalur pelayaran di Hormuz menemui jalan buntu. Ranjau laut yang disebar Iran membuat volume transit kapal tanker masih jauh di bawah level sebelum konflik pecah. "Memang ada sedikit peningkatan jumlah kapal yang mencoba melintas, namun transit keseluruhan masih jauh di bawah level sebelum konflik terjadi," papar Hynes dalam analisis pasarnya. Selat yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu kini lebih mirip ladang ranjau ketimbang jalur dagang.
Dari Washington, nada peringatannya lebih keras. Mark Zandi, Kepala Ekonom Moody's Analytics, menyebut pasar finansial AS sedang bertaruh pada satu harapan tunggal: kesepakatan damai yang harus terjadi dalam hitungan hari. "Kesepakatan damai itu harus terjadi dengan sangat cepat, dalam satu, dua, tiga hari ke depan, atau setidaknya pekan depan. Setelah momentum itu lewat, saya rasa kita akan menghadapi masalah yang sangat nyata," kata Zandi kepada Bloomberg, Jumat (29/5/2026). Ambang kritisnya, menurut dia: harga bensin USD 5 per galon. AS agaknya sudah hampir menyentuh angka itu.
Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS kini bertengger di 365 juta barel, level terendah dalam dua tahun terakhir. Ruang gerak pemerintah untuk meredam lonjakan harga lewat pelepasan cadangan strategis makin sempit. Kalau data EIA ini bisa dipercaya, pemerintah AS nyaris tidak punya kartu cadangan lagi. Zandi menambahkan, jika harga minyak mentah menembus USD 125 per barel, sinyal resesi bukan lagi spekulasi.
Rupiah hari ini tercatat di Rp17.926 per dolar AS, rekor terburuk sepanjang sejarah. Babak baru ini terjadi hanya dalam 1 tahun 7 bulan pemerintahan Prabowo Subianto. Bagi importir Indonesia yang mengandalkan dolar untuk membeli minyak, kombinasi minyak mahal dan rupiah yang amblas ibarat kena pukul dua tangan sekaligus.
Satu sinyal yang agak mendinginkan kepala: harga gas alam Eropa justru terkoreksi karena permintaan yang lesu. Pertanyaannya, apakah ini cukup untuk memberi ruang bagi diplomasi? Mungkin. Tapi jendela itu, setidaknya menurut Zandi, mungkin tinggal terbuka beberapa hari. Investor yang masih nyangkut di aset berisiko sambil menunggu resolusi Timur Tengah, bisa jadi sedang bermain dengan waktu yang lebih sempit dari perkiraan mereka.