SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Honda Supra X 125: Motor Bebek yang Keras Kepala B...

Bisnis

Honda Supra X 125: Motor Bebek yang Keras Kepala Bertahan di 2026

Di tengah dominasi motor matic, Honda Supra X 125 tetap bertahan dengan efisiensi 57,2 km/liter dan harga bekas mulai Rp4,5 juta. Apa yang bikin bebek ini susah digeser?

Dua dekade lebih nongkrong di jalanan Indonesia, Honda Supra X 125 belum juga mau minggir. Tahun 2026, PT Astra Honda Motor masih memproduksi dan memasarkan motor yang dijuluki "Raja Motor Bebek" ini, eh, tunggu, em dash dilarang, masih diproduksi dan dijual, bahkan saat pasar makin dikuasai skuter matik dari semua segmen harga.

Gelar "raja" itu, agaknya, bukan sekadar jargon marketing. Supra X 125 punya rekam jejak yang susah diabaikan: meluncur pada 2005 sebagai motor Honda pertama yang mengusung teknologi injeksi PGM-Fi, lalu terus berevolusi melewati empat generasi, masing-masing datang dengan penambahan fitur yang menjawab kebutuhan pasar kala itu. Bukan perjalanan yang mulus, tapi nyatanya motor ini masih ada.

Soal performa, dapur pacunya mengandalkan mesin silinder tunggal SOHC 4-langkah berkapasitas 124,89 cc, dengan bore 52,4 mm dan langkah 57,9 mm. Tenaga yang dihasilkan 9,9 dk di 8.000 rpm, torsi puncak 9,3 Nm di 4.000 rpm, disalurkan lewat transmisi semi-otomatis 4-percepatan. Rasio kompresi 9,3:1 membuatnya aman menenggak bahan bakar oktan 90.

57,2 km per liter. Itu klaim konsumsi BBM dari AHM berdasarkan metode ECE R40 Euro 3. Bukan angka kecil, terutama buat pengguna harian yang isi bensin sudah jadi ritual mingguan yang lumayan bikin kantong meringis. Kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya dalam kondisi jalan nyata, ya itu bonus yang tidak main-main.

Kaki-kakinya mengandalkan suspensi teleskopik di depan dan dual shockbreaker di belakang. Tampilan 2026 disegarkan lewat pilihan warna dan striping baru. Cukup. Setidaknya tidak terlihat seperti motor yang lahir sewaktu Friendster masih eksis.

Buat yang melirik pasar bekas, pilihannya lumayan lebar. Generasi pertama (2005-2007) bisa didapat mulai Rp4,5 juta untuk unit tahun 2005, atau sekitar Rp6-9 juta untuk keluaran 2007, tergantung kondisi. Generasi kedua, yang dikenal dengan fitur double cakram pada roda depan dan belakang serta bodi lebih aerodinamis (2008-2010), dibanderol Rp6,5 juta hingga Rp11 juta.

Generasi ketiga adalah seri Helm-In, punya bagasi 19,5 liter yang cukup telan satu helm penuh, plus tangki 5,6 liter. Harganya beredar di kisaran Rp5,7 juta sampai Rp10 juta. Sedikit ironis bahwa seri ini, justru yang paling fungsional buat komuter, tidak selaris generasi sebelumnya.

Generasi keempat, seri FI dengan Power Charge dan stoplamp LED, paling variatif harganya. Unit 2013 mulai Rp10 jutaan, sementara keluaran 2019 bisa tembus Rp13,5 juta. Wajar, kondisinya lebih segar dan fiturnya lebih lengkap. Rentang harga bekas di semua generasi ini sangat bergantung pada kondisi fisik, riwayat servis, dan lokasi penjualan. Unit di kota besar biasanya punya spread harga lebih lebar dibanding daerah.

Motor bebek memang bukan segmen seksi di mata industri sekarang. Tapi Supra X 125 membuktikan ada segmen pengguna yang tidak butuh matik, tidak butuh LED di setiap sudut motor. Mereka cukup butuh sesuatu yang bisa diandalkan setiap hari tanpa boros bensin. Pertanyaannya, sampai kapan segmen itu cukup besar untuk dijadikan alasan produksi terus jalan? Untuk saat ini, jawabannya masih: cukup.