KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga TBS Sawit Kaltim Kembali Tertekan, Petani Pl...

Ekonomi

Harga TBS Sawit Kaltim Kembali Tertekan, Petani Plasma Harap-Harap Cemas

Harga TBS kelapa sawit di Kalimantan Timur kembali terkoreksi pada periode 1-15 Juni 2026, seiring pelemahan harga CPO dan kernel yang merata di hampir seluruh perusahaan acuan.

Harga TBS Kelapa Sawit Kaltim Anjlok Lagi Minggu Ini

Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Timur kembali tergerus pekan ini, melanjutkan tren pelemahan beberapa periode terakhir. Petani plasma di provinsi itu pun was-was menjelang musim panen.

Untuk periode 1-15 Juni 2026, harga rata-rata tertimbang CPO ditetapkan Rp14.224,67 per kilogram, sementara kernel berada di Rp13.898,47 per kilogram. Dua angka acuan inilah yang menyeret harga TBS di tingkat petani ikut ambles, mengikuti pola transmisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Harga TBS bervariasi tergantung usia tanaman. Pohon muda usia 3 tahun dihargai Rp2.989,34 per kilogram, merangkak naik bertahap hingga puncak di usia 10 tahun: Rp3.403,83 per kilogram. "Di umur 4 tahun harganya Rp3.084,42 per kilogram, umur 5 tahun Rp3.169,41 per kilogram, selanjutnya umur 6 tahun Rp3.239,06 per kilogram," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur Ahmad Muzakkir dalam keterangan resmi, Kamis (18/6/2026).

Setelah usia 10 tahun, harga berbalik. Tanaman usia 21 tahun hanya dihargai Rp3.355,43 per kilogram, terus menyusut hingga usia 25 tahun di angka Rp3.153,03 per kilogram. Bisa jadi pola ini mencerminkan produktivitas pohon tua yang mulai loyo, sehingga pabrik kelapa sawit mematok harga beli lebih rendah. Logika sederhana, tapi dampaknya nyata di kantong petani.

Muzakkir menegaskan daftar harga itu berlaku khusus bagi petani yang bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit di Kaltim, terutama dalam skema kebun plasma. Kemitraan ini, kata dia, berfungsi sebagai pagar pengaman agar harga TBS tetap mengacu pada patokan resmi dan tidak jadi bulan-bulanan tengkulak.

Skema plasma memang menjadi sandaran mayoritas petani kecil sawit di Kalimantan. Tanpa payung kemitraan itu, harga yang masuk ke tangan petani bisa jauh di bawah patokan resmi, apalagi ketika harga CPO global sedang dihajar tekanan seperti sekarang.

Fluktuasi harga TBS bukan barang baru. Sepanjang tahun berjalan, petani sawit di sejumlah provinsi penghasil utama sudah berkali-kali dihadapkan pada siklus naik-turun yang tak menentu, seiring volatilitas minyak nabati di pasar global. Yang membedakan kondisi kali ini: tekanan datang serentak dari sisi CPO maupun kernel. Dua kaki roboh berbarengan.