KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Harga Referensi CPO Mei 2026 Naik 6%, AALI Cetak L...

Finansial

Harga Referensi CPO Mei 2026 Naik 6%, AALI Cetak Laba Rp1,47 T

Pemerintah menetapkan harga referensi CPO periode Mei 2026 di USD1.049,58 per metrik ton, naik 6,06% dari bulan sebelumnya. Di tengah momentum ini, AALI membukukan laba bersih Rp1,47 triliun sepanjang 2025, tumbuh 28,5% secara tahunan.

Harga referensi CPO untuk Mei 2026 resmi dipatok di level USD1.049,58 per metrik ton, naik 6,06 persen dari USD989,63 per metrik ton pada April lalu.

Bukan sekadar angka statistik. Kenaikan ini langsung memicu penyesuaian kebijakan ekspor: Bea Keluar ditetapkan USD178 per metrik ton, Pungutan Ekspor dipatok 12,5 persen dari harga referensi atau setara USD131,1978 per metrik ton. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana yang mengumumkan angka ini lewat siaran pers, Senin (4/5).

Formasi harga referensi berasal dari tiga pasar utama. Bursa CPO Indonesia menyumbang USD955,79 per metrik ton, Bursa Malaysia di USD1.143,37 per metrik ton, dan Rotterdam yang paling agresif di USD1.475,07 per metrik ton. Disparitas antara harga domestik dan Rotterdam yang nyaris 55 persen itu mencolok, cermin betapa hausnya pasar Eropa terhadap minyak nabati.

Beberapa faktor bergolak bersamaan di balik penguatan ini. Permintaan melonjak saat produksi justru tertekan akibat periode libur Idul Fitri. Harga minyak mentah global pun bergejolak akibat ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran, yang secara tidak langsung mengangkat posisi CPO sebagai komoditas energi alternatif.

David Ng, trader internal dari Iceberg X Sdn Bhd, menilai konflik AS-Iran yang masih berlangsung terus memberikan dukungan terhadap harga minyak mentah dunia dan ikut mewarnai sentimen pasar CPO jangka pendek. "Kami memperkirakan harga akan diperdagangkan antara RM4.500 dan RM4.650 per ton minggu depan," katanya.

Sepekan sebelumnya, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia justru kompak melemah di seluruh tenor. Kontrak Mei 2026 turun RM13 ke RM4.504 per ton, kontrak Juni melemah RM25, Juli terkoreksi RM27. Volume perdagangan mingguan menyusut ke 315.237 lot dari 481.774 lot pekan sebelumnya. Pasar agaknya sedang konsolidasi sebelum kembali bertenaga.

Konfirmasi pemulihan datang pada Senin (4/5). Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat lebih dari satu persen, ditopang optimisme terhadap rencana pemerintah Malaysia meningkatkan mandat campuran biodiesel berbasis sawit, plus penguatan harga minyak kedelai di pasar global. Harga CPO KPBN Inacom sendiri bertahan di Rp15.400 per kilogram untuk posisi Franco Dumai.

Bagi PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), tren ini bak angin segar yang sudah terasa sejak tahun lalu. Sepanjang 2025, emiten sawit ini membukukan laba bersih Rp1,47 triliun, tumbuh 28,5 persen secara tahunan. Pendapatan melesat 31 persen menjadi Rp28,7 triliun, kenaikan yang ditopang sekaligus oleh volume maupun harga jual yang lebih tinggi.

Angka operasionalnya juga solid. Produksi CPO naik 6 persen menjadi 1,24 juta ton, produksi kernel meningkat 8 persen menjadi 252 ribu ton, dan volume penjualan CPO beserta turunannya menembus 1,8 juta ton atau naik 13 persen. Harga CPO Rotterdam sepanjang 2025 sendiri bergerak dari USD1.084 per ton ke USD1.222 per ton. Lintasan harga seperti itu, entah kebetulan atau tidak, searah persis dengan kurva laba AALI.

Perusahaan dengan 280.325 hektare lahan perkebunan dan 32 pabrik kelapa sawit ini juga menaikkan ambisi replanting-nya. Target peremajaan lahan yang sebelumnya 4.000-5.000 hektare per tahun kini didorong minimal 6.000 hektare, dengan target 8.000 hektare pada 2026. Belanja modal ikut mekar menjadi Rp1,4 triliun tahun ini, hampir dua kali lipat realisasi 2025 sebesar Rp782 miliar.

Para pemegang saham kebagian Rp458 per saham sebagai dividen dari laba 2025, setara Rp881,5 miliar. Dividen interim Rp123 per saham sudah dibayarkan Oktober lalu. Sisanya, Rp335 per saham, dijadwalkan cair Mei ini. Lumayan untuk ditunggu.