Kantong kresek yang biasanya Rp 15 ribu kini jadi Rp 20 ribu. Plastik bungkus siomai yang kemarin Rp 3.000, sekarang loncat ke Rp 5.000. Bagi Ipan, pedagang siomai keliling di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, kenaikan itu bukan sekadar angka di atas kertas. Itu potongan langsung dari margin yang sudah tipis.
Situasi Ipan bukan pengecualian. Dari warung bakso pinggir jalan sampai produsen UMKM skala menengah, tekanan harga plastik terasa nyata dalam beberapa pekan terakhir. Akarnya ada di level yang jauh lebih hulu.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu koreksi suplai nafta, bahan baku utama industri petrokimia yang jadi cikal bakal plastik. Gangguan distribusi itu menjalar ke hilir dan menekan biaya produksi di sepanjang rantai pasok. "Mengingat plastik merupakan produk turunan dari proses petrokimia yang berbasis minyak bumi, gangguan pada jalur distribusi dan produksi di global memang memberikan tekanan pada struktur biaya di tingkat hulu," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4).
Sempat berhembus kabar bahwa stok plastik nasional hanya cukup sampai Mei. Agaknya kabar itu cukup serius, sampai dua kementerian langsung turun tangan.
Dampaknya di lapangan terpetakan cukup jelas oleh Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Mayoritas pelaku usaha kecil, kata Maman, memilih untuk tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli konsumen. Terdengar mulia. Tapi konsekuensinya langsung: margin tergerus. "UMKM kan dia juga perlu menjaga harga barang mereka di mata masyarakat dan di mata pembeli. Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuma akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, karena cost produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik gitu," jelas Maman di Kantor Kementerian UMKM, Kamis (9/4).
Keluhan dari pelaku UMKM, menurut Maman, sudah membanjir dalam sepekan terakhir.
Respons jangka pendek pemerintah: membuka keran impor nafta dari sumber alternatif. Proses administrasinya diklaim sudah berjalan. Afrika, India, dan Amerika disebut sebagai kandidat pemasok pengganti. Bukan solusi yang elegan, tapi paling realistis dalam waktu dekat.
Soal jangka panjang, Kementerian UMKM punya ide yang lebih ambisius, sekaligus masih jauh dari eksekusi. Maman menyebut plastik berbahan rumput laut sebagai salah satu alternatif yang tengah dijajaki. Indonesia punya potensi besar di sini. Ironisnya, sebagian besar produsen plastik rumput laut lokal justru mengekspor produknya ke luar negeri karena pasar domestik belum siap menyerap. Biaya produksinya pun masih dianggap mahal karena skala yang terlalu kecil.
"Kita akan panggil beberapa usaha-usaha kecil menengahnya, dan kita akan dorong dalam skala yang lebih besar lagi, supaya cost produksi plastiknya dari bahan baku rumput laut, dari singkong juga bisa, tapi yang sudah ada ini yang rumput laut," kata Maman.
Pertanyaannya, berapa lama jalan panjang itu bisa ditempuh? Pemerintah bicara rumput laut dan singkong sebagai masa depan, sementara Ipan di Mampang masih sibuk menghitung ulang berapa lembar plastik siomai yang bisa dia pakai per porsi supaya modalnya tidak jebol hari ini. Jarak antara solusi jangka panjang dan kebutuhan hari ini, kalau mau jujur, masih menganga lebar.