Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ditutup di Rp50.200 per gram pada Jumat (22/5/2026), naik Rp400 dari perdagangan sebelumnya, sekaligus mengakhiri drama tiga hari yang sempat membuat investor perak cukup was-was.
Drama itu bermula Rabu (20/5), ketika harga perak Antam dihajar koreksi Rp2.350 sekaligus hingga jatuh ke Rp48.650 per gram, meninggalkan level psikologis Rp50.000 yang sudah susah payah dipertahankan. Kamis, pemulihan mulai terlihat: kenaikan Rp1.150 ke Rp49.800. Lalu Jumat pagi, level kritis itu ditembus lagi. Bukan rebound yang dramatis. Tapi konsisten.
Dari laman resmi Logam Mulia, harga dasar perak murni batangan ukuran 250 gram dipatok Rp12.950.000, atau Rp14.374.500 setelah PPN 11%. Ukuran 500 gram harga dasarnya Rp25.100.000, dengan angka termasuk pajak di Rp27.861.000. Bagi investor ritel, ini berarti harga efektif per gram menyentuh kisaran Rp51.800 setelah pajak, angka yang perlu diperhitungkan sebelum membandingkannya dengan harga spot.
Antam juga menjual lini Perak Heritage, koin bertema budaya nasional dengan daya tarik ganda: instrumen investasi sekaligus koleksi bernilai numismatik. Ukuran 31,1 gram dibanderol Rp2.109.028 (Rp2.341.021 dengan PPN), sedangkan ukuran 186,6 gram dijual Rp11.532.616 atau Rp12.801.204 termasuk pajak. Segmennya agaknya berbeda dari pembeli batangan reguler.
Satu hal yang patut dicermati: di saat harga perak Antam menguat, pasar global justru bergerak berlawanan. Perak dunia melemah 0,69% ke US$76,03 per ons troy pada hari yang sama. Divergensi semacam ini bukan pertama kali terjadi. Bisa jadi cermin dari faktor domestik seperti pergerakan kurs rupiah atau dinamika permintaan lokal, bukan semata ekor dari pasar global.
Bagi yang selama ini hanya melirik emas, perak memang kerap jadi alternatif diversifikasi yang luput dari radar. Volatilitas tiga harian ini, koreksi tajam lalu rebound cepat, justru menggambarkan karakter perak sebagai aset yang lebih lincah. Cuan lebih cepat, tapi kalau nyangkut, bisa lebih dalam juga.