JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga Minyak Terkerek Pernyataan JD Vance, Pasar K...

Bisnis

Harga Minyak Terkerek Pernyataan JD Vance, Pasar Kembali Waspada

Brent ditutup menguat ke US$79,85 per barel setelah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance memicu kekhawatiran baru soal keberlanjutan gencatan senjata Iran, sementara Goldman Sachs memproyeksikan ekspor minyak Teluk baru normal pada akhir Juli.

Harga Minyak Dunia Naik usai Pernyataan JD Vance soal Iran

Sebelum pernyataan JD Vance keluar, harga minyak Brent nyaris menyentuh level terendah sejak awal Maret. Lalu satu kalimat dari Wakil Presiden AS itu cukup membalik arah pasar.

Kontrak berjangka Brent ditutup menguat 30 sen atau 0,38 persen ke US$79,85 per barel pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Angka yang terlihat kecil, tapi konteksnya tidak kecil sama sekali. Vance memperingatkan Israel agar tidak melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Hezbollah di Lebanon, pernyataan yang langsung dibaca pasar sebagai sinyal bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran belum sekuat yang dikira.

West Texas Intermediate (WTI) bergerak berlawanan arah: turun 19 sen atau 0,25 persen ke US$76,60 per barel. Divergensi kecil antara dua acuan ini agaknya mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap narasi geopolitik yang berubah cepat. Bisa jadi ini juga sinyal bahwa pelaku pasar sedang menimbang dua skenario sekaligus.

John Kilduff, mitra di Again Capital, menyebut kondisi ini sudah bisa ditebak. Kawasan Timur Tengah tetap jadi variabel paling liar dalam persamaan harga minyak saat ini, dan pernyataan Vance soal Israel dinilainya sebagai pemicu ketegangan baru. "Pernyataan wakil presiden mengenai Israel tampaknya kembali meningkatkan ketegangan," katanya. "Saya kira gangguan sekecil apa pun akan langsung tercermin dalam pergerakan pasar," lanjut Kilduff.

Fokus sesungguhnya ada di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini, sebelum konflik pecah, menanggung sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. MoU 14 poin antara AS dan Iran menetapkan masa negosiasi 60 hari, dengan klausul bahwa lalu lintas di Selat Hormuz harus dipulihkan penuh dalam 30 hari pertama. Tapi pasar, seperti biasa, tidak mau menunggu kepastian.

"Pasar saat ini sudah kembali memperhitungkan skenario pemulihan penuh arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Apa pun yang tidak memenuhi skenario tersebut akan menjadi masalah," ujar Kilduff. Angka yang patut dicermati, mengingat kesepakatan awal ini masih menunda pembahasan soal program nuklir Iran.

Goldman Sachs memproyeksikan ekspor minyak negara-negara Teluk kembali ke level sebelum perang pada akhir Juli 2026, dengan produksi mentah pulih sepenuhnya baru pada Oktober. Untuk mencapai itu, volume pengiriman melalui Selat Hormuz perlu naik sekitar 13 juta barel per hari dari posisi saat ini, yang berarti baru sekitar 70 persen kapasitas pra-perang. Bukan pulih total, tapi cukup untuk menenangkan pasar secara bertahap.

BNP Paribas lebih konservatif. Bank asal Prancis ini menilai harga Brent di kisaran US$75 per barel sebagai "batas bawah yang kuat" dalam waktu dekat, mempertimbangkan gangguan pasokan yang belum selesai dan permintaan yang mulai bangkit. Sebagai perbandingan, Brent diperdagangkan di kisaran US$60-70 per barel pada dua bulan pertama 2026, sebelum konflik meledak.

Dari sisi permintaan, China memberikan warna berbeda. Konsumsi minyak negara itu diproyeksikan turun 4,9 persen menjadi 753 juta ton metrik sepanjang 2026, menurut unit riset PetroChina. Transisi ke energi baru berjalan lebih cepat dari perkiraan, ditambah efek harga minyak yang lebih tinggi menekan permintaan. Ironis: justru ketika konflik mendorong harga naik, konsumen terbesar kedua dunia malah bergerak menjauh dari minyak.

Masif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan lapisan ketidakpastian yang menumpuk. Drone Ukraina dilaporkan kembali menyerang kilang minyak di Moskow, serangan kedua dalam sepekan. Risiko gangguan pasokan dari Rusia menambah tekanan pada pasar yang sudah cukup tegang.

Bagi investor yang memegang saham-saham energi di bursa domestik, pergerakan Brent di kisaran US$79-80 ini bisa jadi sinyal awal bahwa volatilitas belum usai. Pertanyaannya, berapa lama pasar bisa bertahan dengan ketidakpastian berlapis ini? Selama Selat Hormuz belum benar-benar normal dan kesepakatan AS-Iran masih di atas kertas, setiap pidato pejabat Washington akan tetap punya efek kejut yang tidak bisa diabaikan.