Harga emas sudah jauh dari puncaknya, tapi bukan berarti ceritanya sudah selesai. Koreksi dari level US$ 5.500 per troy ounce ke sekitar US$ 4.100 sempat bikin sebagian pelaku pasar gelisah. Bagi analis yang sudah bertahun-tahun mengikuti logam kuning ini, koreksi itu tidak mengubah banyak hal.
Bernard Dahdah, analis logam mulia di Natixis, termasuk yang paling vokal soal ini. Proyeksinya untuk akhir 2026 tetap dipatok di US$ 4.600 per troy ounce. Tidak naik saat emas menyentuh US$ 5.500, tidak turun sekarang. "Ketika harga emas berada di US$ 5.500, orang-orang bertanya mengapa saya tidak menaikkan perkiraan. Saya akan menjadi analis yang cukup buruk jika saya hanya mengubah pandangan saya setiap kali angin berubah," tegasnya.
Angka itu bukan asal tempel. Dahdah membangun argumennya di atas perubahan struktural yang, menurutnya, sudah terlanjur terjadi dan sulit dibalik. Fase bullish berikutnya tidak akan lagi ditopang permintaan spekulatif seperti yang mendorong emas ke rekor sebelumnya. Penggeraknya adalah bank sentral, yang kini tengah membangun kembali cadangan emas setelah berbulan-bulan tertekan gangguan geopolitik.
"Sekarang perang telah berakhir. Pada prinsipnya, saya pikir bank sentral akan mencatat rekor pembelian emas bulanan," sebut Dahdah. Bukan angka kecil.
Yang membuat analisis ini menggigit bukan hanya soal volume beli, tapi soal mengapa mereka membeli. Dahdah menyebut persepsi terhadap aset berbasis dolar AS sudah bergeser secara permanen. Negara-negara yang selama ini menggantungkan cadangan devisa pada denominasi dolar mulai mempertanyakan apakah aset tersebut masih memberikan keamanan yang sama. "AS telah kehilangan citranya sebagai penjamin stabilitas internasional," katanya. "Citra telah berubah," tambahnya, merujuk pada negara-negara pemegang cadangan dolar besar yang agaknya makin ragu.
Pergeseran persepsi semacam ini, kalau benar terjadi dalam skala besar, bisa jadi katalis yang jauh lebih tahan lama dibanding sentimen risk-off jangka pendek. Bak gayung bersambut: ketidakpercayaan pada dolar bertemu dengan mesin pembelian bank sentral yang sedang panas.
Harga emas memang mengawali Juli 2026 dengan cukup gagah. Dalam tiga hari pertama bulan ini, emas menguat 4,42% dan konsisten bertahan di atas US$ 4.100 sebagai level psikologis penting. Momentum itu mulai pudar ketika koreksi 1,68% muncul pada perdagangan 6-7 Juli. Kombinasi data makroekonomi AS, ekspektasi kebijakan The Fed, dan rotasi preferensi investor ke aset lain turut menekan laju kenaikan. IPO OpenAI pun disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang menyedot perhatian dan dana keluar dari komoditas.
China tetap disebut sebagai pilar yang tidak bisa diabaikan. Dahdah tidak mengantisipasi lonjakan dramatis dari sisi konsumsi, tapi pembelian yang stabil dari negara itu, dikombinasikan dengan akselerasi dari sektor resmi, diyakini cukup untuk terus menetapkan harga dasar emas yang semakin tinggi, pelan tapi konsisten.
Bagi investor ritel lokal, ini momen yang patut dicermati dengan kepala dingin. Koreksi dari US$ 5.500 ke US$ 4.100 terasa menyakitkan kalau masuk di puncak. Tapi dalam konteks tren jangka menengah, level saat ini bisa jadi titik akumulasi yang lebih rasional dibanding euforia beberapa bulan lalu. Pertanyaannya tinggal: seberapa cepat bank sentral global benar-benar masuk dengan volume yang Dahdah proyeksikan?