SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga Emas Antam Turun Rp 31.000, Spread Menganga...

Bisnis

Harga Emas Antam Turun Rp 31.000, Spread Menganga Rp 197.000

Harga emas Antam melorot Rp 31.000 per gram pada Kamis (28/5), tepat setelah libur Iduladha. Pembeli yang masuk di harga puncak masih gigit jari, sementara spread jual-beli menganga hingga Rp 197.000.

Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 31.000 Per Gram Akumulasi Selisih Tebal

Sepanjang libur Iduladha 2026, harga emas dunia nyaris tidak kemana-mana. Stagnan. Dampaknya langsung terasa bagi pembeli emas Antam yang masuk sebelum liburan: belum ada banyak alasan untuk tersenyum.

Pada perdagangan Kamis (28/5/2026), harga emas batangan bersertifikat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di gerai Logam Mulia terkoreksi Rp 31.000 menjadi Rp 2.754.000 per gram. Harga buyback ikut tergerus, kini di Rp 2.557.000 per gram. Selisih antara harga beli dan harga buyback hari ini mencapai Rp 197.000 per gram. Lumayan tebal.

Buat siapa pun yang sempat membeli emas Antam di kisaran Rp 2.800.000 pada 21 Mei lalu, nilai aset itu kini sudah menyusut sekitar 8,68% dihitung dari harga buyback. Yang masuk di akhir April dengan harga Rp 2.814.000 per gram bernasib lebih buruk, merugi 9,13%. Paling terjepit adalah mereka yang beli di Februari 2026 ketika harga sempat menyentuh Rp 3.085.000, kerugian akumulatifnya sudah mencapai 17,12%. Bukan angka kecil.

Cerita lain memang ada, kalau kita mundur cukup jauh. Investor yang masuk di November 2024 di harga Rp 1.513.000 per gram sudah mengantongi untung 69%. Yang masuk Agustus 2024 di Rp 1.410.000, cuannya bahkan sudah menembus 81%. Di sinilah sebetulnya watak asli emas Antam: instrumen yang baru bermakna kalau pembelinya sanggup bersabar.

Pertanyaannya, berapa lama harus sabar?

Spread Rp 197.000 per gram itu bukan sekadar angka teknis. Ini "biaya masuk" yang harus ditanggung investor sebelum satu rupiah pun keuntungan bisa dinikmati. Harga emas harus terkerek setidaknya 7-8% hanya untuk balik modal, belum bicara profit. Dengan harga global yang masih lesu pasca-Iduladha, jeda itu agaknya butuh waktu yang tidak sebentar.

Satu hal yang kerap luput dari perhatian pembeli ritel: emas batangan bukan instrumen untuk "hit and run". Spread yang menganga antara harga jual dan buyback menjadikannya tidak relevan sebagai simpanan jangka pendek, apalagi untuk spekulasi. Mereka yang masuk di puncak siklus kenaikan awal 2026 kini sedang menjalani ujian kesabaran, dan entah kebetulan atau tidak, ujian itu mungkin belum selesai.