Harga CPO di Riau bergerak melemah pekan ini. Koreksi menghantam mayoritas pabrik kelapa sawit (PKS) yang menjadi acuan penetapan harga tandan buah segar (TBS) untuk periode 6-13 Mei 2026, meski segelintir perusahaan masih mampu menahan laju penurunan.
Seluruh unit PTPN IV Regional III seragam terparkir di angka Rp15.339,50 per kilogram, tergerus Rp29,50 dari pekan sebelumnya. Tujuh unit masuk dalam daftar ini: Sei Buatan, Sei Tapung, Sei Intan, Tanah Putih, Lubuk Dalam, Sei Garo, dan Sei Galuh. Kompak. Tidak ada satu pun yang lolos.
Tekanan di sektor swasta lebih bervariasi. PT Adei Plantation & Industry mencatat koreksi terdalam, amblas Rp202,71 ke level Rp15.164,00 per kilogram. PT Inti Indosawit Subur unit PMKS Ukui Dua menyentuh Rp15.050,00, turun Rp168. PT Buana Wiralestari Mas dan PT Ramajaya Pramukti sama-sama tergerus Rp128 ke Rp15.122,00. PT Meganusa Intisawit juga tidak luput, terkoreksi Rp120,50 ke Rp14.752,00.
Tidak semuanya merah, tentu saja. PT Kimia Tirta Utama jadi outlier paling mencolok, melesat Rp190 ke Rp15.490,00 per kilogram. Disusul PT INECDA yang menguat Rp89 ke Rp15.458,00, serta PT Eka Dura Indonesia dan PT Sari Lembah Subur yang masing-masing naik Rp44 ke Rp15.294,00. Grup Salim Ivomas di wilayah Rokan Hilir relatif kalem di Rp15.220,00, dengan satu unit, Kayangan, terkerek tipis Rp25.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi membenarkan tren ini. "Secara umum harga CPO minggu ini mengalami penurunan, meski ada sebagian PKS yang mengalami kenaikan," kata pria yang akrab disapa Ucup itu, Selasa (5/5/2026).
Penurunan di tingkat PKS langsung ditransmisikan ke petani. Harga TBS plasma Riau untuk periode 6-12 Mei 2026 tergerus Rp31,53 per kilogram dibanding pekan lalu. Bagi petani plasma yang pendapatannya bergantung langsung pada penetapan harga mingguan ini, selisih Rp31,53 bukan angka kecil, kalau dijumlahkan sepanjang musim panen.
Satu hal yang agaknya luput dari perhatian: harga TBS dari kelompok mitra swadaya justru bergerak tipis ke atas, dengan kenaikan tertinggi tercatat di kelompok umur tanaman 9 tahun. Dua arah yang berlawanan. Artinya, tidak semua segmen petani sawit sedang menghadapi tekanan yang sama pekan ini.
Pertanyaannya, apakah koreksi ini sekadar fluktuasi biasa atau awal dari tren yang lebih panjang? Volatilitas harga CPO lokal memang kerap mengikuti pergerakan referensi global, termasuk tekanan dari pasar berjangka Malaysia dan dinamika permintaan dari India serta Tiongkok. Harga pekan depan yang akan menjawab.