SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga CPO Kompak Menguat di BMD, Konflik Timur Ten...

Bisnis

Harga CPO Kompak Menguat di BMD, Konflik Timur Tengah dan El Nino Jadi Bahan Bakar

Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives kompak menguat pada Senin (20/7/2026), didorong kombinasi sentimen positif dari kenaikan harga minyak mentah, prospek ekspor solid, dan ancaman gangguan pasokan akibat El Nino yang kian menguat.

Analysts: Good CPO Price Needed To Offset Rising Input Costs - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kompak menguat pada Senin (20/7/2026), membalik pelemahan yang terjadi di akhir pekan sebelumnya. Bukan satu faktor yang mendorong, melainkan deretan katalis yang kebetulan datang bersamaan dalam satu sesi.

Kontrak CPO Agustus 2026 melesat 39 Ringgit Malaysia menjadi 4.568 Ringgit Malaysia per ton. Semakin ke ujung kurva, penguatannya makin tajam. Kontrak September naik 43 Ringgit ke 4.608, Oktober terkerek 46 Ringgit ke 4.643, November melonjak 43 Ringgit ke 4.673, Desember terbang 42 Ringgit ke 4.705, dan kontrak Januari 2027 menguat 38 Ringgit menjadi 4.735 Ringgit Malaysia per ton.

Sentimen terkuat datang dari pasar energi. Memanasnya konflik di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran soal distribusi minyak mentah lewat Selat Hormuz, yang langsung mendongkrak daya tarik biodiesel berbasis sawit sebagai alternatif. Harga minyak nabati di bursa Dalian, China, dan Chicago, Amerika Serikat, turut menguat dan mengangkat selera pasar terhadap CPO.

Dari sisi permintaan fisik, ekspor Malaysia masih membukukan angka yang, jujur saja, cukup meyakinkan. Data perusahaan survei kargo mencatat pengiriman minyak sawit pada 1-15 Juli meningkat sekitar 4% hingga 12,4% dibandingkan periode yang sama di bulan Juni. Rentang yang lebar, tapi arahnya jelas: permintaan tidak sedang lesu.

Angin dari sisi pasokan agaknya juga mulai bertiup ke arah yang menguntungkan harga. Pusat Prediksi Iklim AS (U.S. Climate Prediction Center) menyatakan fenomena El Nino semakin menguat dalam sebulan terakhir dan diperkirakan terus berlanjut sepanjang 2026 hingga awal 2027. Bagi produksi sawit di Malaysia dan Indonesia, skenario ini berpotensi menekan output dalam beberapa bulan mendatang, faktor yang mulai dipricing-in pelaku pasar berjangka.

Meski begitu, ada satu ganjalan yang masih menghantui reli ini. Impor minyak sawit India pada Juni amblas ke level terendah dalam 14 bulan. Bukan soal daya beli. Penyebabnya lebih sederhana: selisih harga CPO dengan minyak nabati pesaing, seperti kedelai dan bunga matahari, kian menyempit sehingga daya tarik CPO sebagai pilihan paling murah pun berkurang. India importir sawit terbesar di dunia, dan ketika mereka mulai mengerem pembelian, itu sinyal yang susah diabaikan.

Bagi investor yang megang saham emiten sawit di bursa Jakarta, pergerakan BMD hari ini bisa jadi angin segar setelah beberapa sesi bergerak fluktuatif. Pertanyaannya: apakah reli ini punya napas panjang, atau hanya lonjakan sesaat sebelum tekanan dari sisi permintaan India kembali mendinginkan pasar?