MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga Barang Siap Naik di Kuartal IV, Daya Beli Ma...

Bisnis

Harga Barang Siap Naik di Kuartal IV, Daya Beli Masih Terengah-engah

Pengusaha ritel memperingatkan kenaikan harga barang konsumsi hampir pasti terjadi mulai Oktober 2026, saat stok baru hasil produksi berbiaya tinggi mulai masuk ke pasar — tepat menjelang musim belanja akhir tahun.

Indonesia Retail Market Report | Industry Analysis, Size & Forecast, 2031

Stok lama sedang habis. Begitu stok baru masuk ke rak-rak ritel pada kuartal IV/2026, konsumen akan merasakan bedanya di kasir.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja sudah membunyikan alarm sejak awal Juli. Barang-barang yang beredar saat ini masih dari persediaan lama, diproduksi sebelum biaya melonjak. Masalahnya, stok pengganti sudah diproduksi di kuartal II dan III, ketika ongkos material, logistik, dan energi sudah lebih mahal. Selisih biaya itu tinggal menunggu waktu sebelum diteruskan ke harga jual.

"Stok baru ini itu adalah hasil produksi dari harga-harga material yang sudah naik di triwulan II dan triwulan III. Tapi nanti di triwulan IV hampir pasti harga akan naik. Jadi saya kira itu yang harus diantisipasi," ujar Alphonzus saat ditemui di Trans Studio Mall Cibubur, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Kenaikannya pun tidak bakal terbatas satu kategori. Tekanan biaya menyusup ke seluruh rantai produksi dan distribusi, dari makanan dan minuman sampai produk non-pangan. Kenaikan biaya energi dan beban regulasi domestik memperbesar tekanan yang sudah ada.

Timingnya kurang ideal, bak pedang bermata dua. Kuartal IV memang peak season kedua setelah Ramadan, dengan rentetan momen konsumsi besar: Natal, Tahun Baru, Imlek, lalu Ramadan 2027. Biasanya saat peritel mengejar target tahunan. Tahun ini, justru momentum itulah yang bertabrakan langsung dengan harga yang merangkak.

Paling rentan? Kelompok menengah bawah. Segmen ini daya belinya memang belum sepenuhnya pulih, dan pelemahan rupiah memperburuk gambaran itu, khususnya untuk produk dengan komponen impor yang cukup besar.

Data Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) memperkuat kekhawatiran tersebut. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 amblas ke 117,8 dari 120,9 pada Mei. Di atas 100 memang masih zona optimisme, tapi trennya konsisten melemah. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tergerus ke 109,2 dari 112,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melorot ke 126,4 dari 129,7. Dua sisi sekaligus, kondisi kini dan harapan enam bulan mendatang, sama-sama meredup.

Fenomenanya sudah terasa di pusat perbelanjaan. Orang masih datang ke mal, tapi makin irit belanja. Kunjungan ada, transaksi tidak selalu mengikuti.

Pemerintah tidak tinggal diam, setidaknya di atas kertas. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut Kementerian Perdagangan menggandeng pelaku ritel lewat program Belanja di Indonesia Aja (BINA), melibatkan Hippindo, Aprindo, dan APPBI. "Itu salah satu cara bagaimana kita merangsang pertumbuhan atau daya beli, khususnya konsumsi terhadap produk-produk domestik," kata Budi.

Appbi sendiri agaknya tidak terlalu yakin insentif model begitu cukup. Alphonzus tegas: kalau daya beli konsumen tidak membaik lebih dulu, subsidi ke hilir tidak akan banyak artinya. "Kalau daya belinya meningkat, pasti belanja. Jadi saya kira lebih baik fokus bagaimana meningkatkan daya beli. Diberikan insentif, kalau enggak ada yang beli tidak ada gunanya," katanya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan, kenaikan harga di level ritel tidak otomatis langsung terbaca pada angka inflasi nasional, karena ada banyak variabel lain dalam perhitungannya. Tapi bagi konsumen yang belanja tiap minggu, selisih di kasir terasa jauh lebih nyata dibanding angka statistik mana pun.