Singtel memilih keluar. Grab, lewat GXS Bank Pte Ltd, langsung bergerak mengisi kekosongan itu dengan dana hampir Rp800 miliar.
Transaksi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (29/5/2026) ini menandai pergeseran kendali di tubuh PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA). GXS Bank memborong tepat 2.446.594.050 lembar saham SUPA pada harga Rp327 per lembar, total nilai transaksi Rp800,04 miliar. Porsi kepemilikannya atas SUPA langsung melonjak dari 10,44% ke 17,66%, dengan total genggaman kini bertengger di 5,98 miliar lembar.
Aksi borong ini bukan tanpa konteks. Keterbukaan informasi BEI menyatakan pembelian dilakukan untuk keperluan "strategi reorganisasi perusahaan." Entah kebetulan atau tidak, pernyataan itu muncul bersamaan dengan kabar bahwa Singtel Alpha Investments Pte Ltd telah melepas seluruh kepemilikannya di Superbank. Selesai. Habis.
GXS Bank sendiri adalah perusahaan patungan antara Grab Holdings (60%) dan Singtel (40%). Dengan kepemilikan Grab yang sebelumnya sudah melampaui 50,74% di SUPA, tambahan porsi via GXS Bank ini makin mengunci kontrol Grab atas lembaga keuangan digitalnya di Indonesia, sementara mitra lamanya memilih jalan keluar dari taruhan perbankan digital ini.
Dari sisi fundamental, aset Superbank disebut jumbo dan kinerjanya digambarkan melejit dalam periode terakhir, kalau data itu bisa dipercaya, dan bisa jadi itulah salah satu justifikasi mengapa Grab memilih memperdalam komitmen, bukan beranjak. Saham SUPA sendiri terpantau stagnan pada sesi perdagangan Jumat itu. Pasar tampak belum sepenuhnya mencerna apa artinya ini.
Pertanyaannya kini: dengan Singtel sudah bersih keluar dan Grab makin dominan, ke mana arah Superbank setelah konsolidasi kepemilikan ini rampung?