JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Grab Kuasai 50,74% SUPA, Singtel Alpha Hengkang Le...

Bisnis

Grab Kuasai 50,74% SUPA, Singtel Alpha Hengkang Lewat Reorganisasi Internal

Grab Holdings resmi menggenggam mayoritas saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) setelah Singtel Alpha Investments melepas seluruh kepemilikannya, sebagai bagian dari reorganisasi strategis internal grup.

Saham SUPA Dijual Sampai Habis  - Halaman all

Grab Holdings kini resmi menjadi pemegang mayoritas PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), mengamankan 50,74 persen kepemilikan setelah rampungnya serangkaian transaksi internal yang tuntas pada 29 Mei 2026. Ini bukan sekadar tambah-tambah saham biasa. Ini pergeseran kendali yang membuat laporan keuangan Superbank mulai terkonsolidasi ke dalam neraca induknya.

Mekanismenya cukup menarik. Singtel Alpha Investments Pte Ltd, yang sebelumnya mengantongi 7,36 persen saham SUPA, melepas seluruh 2,49 miliar lembar sahamnya di harga Rp326 per saham, meraup Rp812,99 miliar. Saham itu tidak melayang ke pasar terbuka, melainkan langsung diserap GXS Bank Pte Ltd, anak usaha Grab. GXS Bank membeli sekitar 2,44 miliar dari total 2,49 miliar lembar tersebut di harga Rp327, merogoh sekitar Rp800,03 miliar.

Diskon 60-61 persen dari harga pasar. Bukan angka kecil.

Di hari yang sama, saham SUPA di pasar reguler bertengger di level Rp840. Selisih lebih dari 512 poin itu lumrah dalam transaksi crossing antar entitas satu grup, tapi tetap jadi sinyal bahwa valuasi internal Grab terhadap SUPA agaknya berbeda jauh dengan persepsi pasar sekunder. Kalau data ini bisa dipercaya, pasar menghargai Superbank nyaris tiga kali lipat dari yang Grab bayar ke Singtel Alpha.

Keterbukaan informasi BEI menyebut tujuan transaksi sebagai "keperluan restrukturisasi internal perusahaan." Kalimat pendek yang menutupi banyak hal: pada dasarnya, Grab memindahkan saham SUPA dari satu kantong ke kantong lain dalam grupnya sendiri, mengonsolidasikan jalur kepemilikan yang sebelumnya tersebar di tiga entitas berbeda.

Setelah transaksi rampung, Grab menggenggam total 17,09 miliar lembar saham SUPA lewat tiga pintu. GXS Bank memegang 5,98 miliar lembar (17,66 persen), Kudo Teknologi Indonesia 5,65 miliar lembar (16,67 persen), dan A5-BD Holdings 5,46 miliar lembar (16,41 persen). Sepekan sebelumnya, pada 21 Mei 2026, Grab sempat menambah koleksi via A5-BD Holdings sebanyak 64,02 juta lembar di harga Rp875 per saham, senilai Rp56,02 miliar.

Yang berubah bukan cuma angka. Melewati ambang 50 persen berarti Superbank kini menjadi entitas anak yang terkonsolidasi penuh dalam laporan keuangan Grab. Setiap rupiah aset, liabilitas, dan laba-rugi Superbank ikut terhitung dalam neraca induknya. Bagi investor Grab yang listing di Nasdaq, ini artinya eksposur langsung terhadap kinerja perbankan digital di Indonesia, sektor yang pertumbuhannya sulit diabaikan.

Grab masuk ke Superbank sejak 2022. Empat tahun kemudian, mereka bukan lagi sekadar pemegang saham minoritas yang ikut-ikutan. Pengendali penuh. Langkah yang, entah kebetulan atau tidak, datang di saat segmen perbankan digital Indonesia sedang dihajar pertumbuhan yang bak gayung bersambut dengan ekspansi ekosistem ride-hailing dan fintech Grab di Asia Tenggara.