RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  GOTO Kejar Restu Buyback Rp3,5 Triliun, Saham Masi...

Bisnis

GOTO Kejar Restu Buyback Rp3,5 Triliun, Saham Masih Terpaku di Rp50

GoTo Gojek Tokopedia siap eksekusi buyback senilai maksimal Rp3,5 triliun setelah RUPSLB 18 Juni 2026, di tengah tekanan jual asing yang sudah menguras Rp1,63 triliun sepanjang tahun ini.

GOTO Buyback, Antrean Exit Brutal Melebihi Daftar Tunggu Naik Haji

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sudah sebulan lebih tidak bergerak dari Rp50 per lembar. Stagnan. Di titik inilah manajemen memilih mengangkat kartu buyback, dengan nilai yang tidak kecil: maksimal Rp3,5 triliun, menunggu restu pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan Kamis, 18 Juni 2026.

Kalau agenda itu mulus, periode buyback resmi berjalan mulai 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027. Seluruh dana berasal dari kas internal, bukan pinjaman, bukan sisa hasil penawaran umum, sesuai ketentuan POJK No. 29/2023. Ciptadana Sekuritas Asia sudah ditunjuk sebagai pelaksana teknis, mengawal transaksi baik di dalam maupun luar bursa.

Dari mana keyakinan manajemen bahwa kas mereka kuat? Referensi utamanya: posisi kas dan setara kas serta deposito jangka pendek per 31 Desember 2025. Memang GOTO masih membukukan rugi bersih pada tahun buku 2025, tapi dua angka kuartal I 2026 yang disodorkan cukup untuk menepis kekhawatiran itu. EBITDA disesuaikan tembus Rp907 miliar. Dan untuk pertama kalinya sejak IPO, GOTO mencatat laba bersih sebesar Rp171 miliar. Bukan angka yang mengubah segalanya, tapi sinyal bahwa mesin bisnis mulai berputar ke arah yang benar.

Tekanan pada harga saham nyata adanya. Sepanjang 2026, GOTO sudah amblas 21,88%, sementara investor asing tercatat net sell Rp1,63 triliun. Free float pun tergerus tipis, dari 71,28% di akhir April menjadi 70,04% di akhir Mei 2026, seiring menyusutnya saham beredar di publik dari 849 miliar lembar menjadi sekitar 834 miliar lembar. Jumlah investor GOTO sendiri relatif diam di angka 360.956 SID.

Ada satu laporan yang agaknya lebih bernilai simbolis ketimbang fundamental. Rafly Umarsyah, seorang pengendali perseroan yang berstatus WNI, masuk membeli 300 lembar saham GOTO di harga Rp50 melalui dua transaksi pada 12 dan 15 Juni 2026. Total nilai pembeliannya? Rp15 ribu. Ia bahkan menegaskan dalam laporan ke BEI bahwa tidak akan mempertahankan pengendaliannya atas saham tersebut. Entah sinyal apa yang hendak dikirim, pasar agaknya tidak terlalu merespons.

Struktur kepemilikan GOTO masih didominasi dua nama besar: SVF GT Subco (Singapore) Pte. Ltd. dengan 7,648% dan Taobao China Holding Ltd. dengan 7,432%. Selebihnya, 84,919% berada di tangan pemegang saham lain. Danantara Indonesia, sovereign wealth fund negara, hanya menggenggam kurang dari 1%.

Manajemen menyebut buyback ini bertujuan memberi fleksibilitas pengelolaan modal sekaligus mendorong harga saham mencerminkan nilai fundamental sesungguhnya. Klaim yang masih perlu dibuktikan, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, mengingat GOTO harus bersaing dengan derasnya tekanan jual asing yang belum menunjukkan tanda berhenti. Adapun modal dasar perseroan tercatat Rp4 triliun dengan total modal ditempatkan Rp1,19 triliun. Dana Rp3,5 triliun untuk buyback bukan jumlah yang bisa dianggap enteng.