JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  GOTO Buyback Rp3,5 Triliun, Saham Masih Gocap di L...

Bisnis

GOTO Buyback Rp3,5 Triliun, Saham Masih Gocap di Level Rp50

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk resmi memulai buyback senilai Rp3,5 triliun mulai 19 Juni 2026, namun harga sahamnya belum bergerak dari level Rp50 meski aksi korporasi besar ini telah diumumkan.

Restu sudah di tangan, duit ada, broker sudah ditunjuk. Tapi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tetap anteng di level Rp50 seolah tidak ada yang terjadi.

Per Rabu (17/6), grafik harga GOTO nyaris lurus datar sejak 18 Mei lalu. Sepanjang 2026, saham ini sudah tergerus 21,88% dan belum ada sinyal pembalikan yang meyakinkan. Investor asing pun kompak hengkang: net foreign sell pada Senin (15/6) tercatat Rp1,51 miliar, lalu membengkak jadi Rp34,82 miliar di Rabu (17/6). Total tekanan jual asing sepanjang tahun ini sudah menembus Rp1,63 triliun. Angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Manajemen GOTO justru memilih momen ini untuk bermanuver. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa pada 18 Juni 2026, pemegang saham mengesahkan rencana buyback senilai maksimal Rp3,5 triliun. Program efektif berlaku mulai 19 Juni 2026 dan berjalan 12 bulan hingga 18 Juni 2027. Ciptadana Sekuritas Asia ditunjuk sebagai broker yang mengawal proses ini dari awal sampai tuntas, baik melalui bursa maupun luar bursa.

Seluruh pendanaan berasal dari kas internal perseroan, termasuk menanggung biaya transaksi dan biaya perantara. Soal kecukupan dana, manajemen mengacu pada posisi kas per 31 Desember 2025 yang, kalau data ini bisa dipercaya, dinilai memadai untuk menjalankan program tanpa mengganggu operasional secara material.

Kontradiksinya memang mencolok. GOTO masih membukukan rugi bersih sepanjang 2025, tapi kuartal I 2026 mulai memperlihatkan cerita berbeda. EBITDA disesuaikan kuartal pertama tahun ini mencapai Rp907 miliar. Yang lebih krusial: laba bersih untuk pertama kalinya, Rp171 miliar. Bak gayung bersambut bagi manajemen yang butuh narasi kuat sebelum menggelontorkan Rp3,5 triliun ke pasar.

Tujuan buyback cukup jelas, setidaknya itu klaim manajemen: optimalisasi struktur modal dan harapan agar harga saham bisa mencerminkan nilai fundamental sesungguhnya. Pasar tampaknya belum terkesan. Level gocap yang sudah bercokol berminggu-minggu ini seolah menantang manajemen untuk membuktikan bahwa Rp3,5 triliun bukan sekadar sinyal kosong.

Kapan pasar mulai percaya? Pertanyaan itu yang kini menggantung.