RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  GIIAS 2026 Banjir Mobil Listrik, dari Rp155 Juta s...

Bisnis

GIIAS 2026 Banjir Mobil Listrik, dari Rp155 Juta sampai Rp3,5 Miliar

Pameran GIIAS 2026 jadi ajang persaingan sengit di segmen kendaraan listrik, dengan belasan model baru masuk pasar Indonesia. Di luar euforia pameran, hitungan biaya kepemilikan mulai jadi pertimbangan utama calon pembeli.

Update Daftar Harga Mobil Listrik September 2026

Wuling Aira EV seharga Rp155 juta. Lexus RZ 600e F Sport Performance dibanderol Rp3,5 miliar. Rentang harga selebar ini, dalam satu pameran, rasanya baru pertama kali terjadi di pasar otomotif Indonesia.

Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, menjadi panggung paling ramai untuk segmen kendaraan listrik sepanjang sejarah pameran ini. Setidaknya belasan model baru diperkenalkan atau langsung dipasarkan, mulai dari merek Eropa, Jepang, hingga deretan pabrikan China yang datang bergelombang dengan harga yang agaknya sengaja dirancang untuk mengusik zona nyaman pemain lama.

Dari sisi harga, Wuling menempatkan Aira EV sebagai kartu truf di segmen paling bawah. Mobil listrik mungil empat pintu ini hadir dalam dua varian: Standard Range Rp155 juta dan Long Range Rp175 juta OTR Jakarta. Angka tersebut sudah mendekati kisaran harga LCGC berbahan bakar bensin. Pergeseran yang tidak kecil maknanya bagi pasar massal.

Chery Q bermain di segmen serupa. Varian Pure dan Rizz masing-masing ditawarkan Rp239,9 juta dan Rp259,9 juta selama GIIAS, turun dari harga normal Rp249,9 juta dan Rp269,9 juta. Baterai LFP 42,7 kWh dengan klaim jarak tempuh 400 kilometer standar NEDC jadi senjata utamanya.

Changan masuk lewat submerek Nevo dengan model Q05, SUV listrik yang tersedia dalam varian Pro Rp309 juta dan Max Rp359 juta selama periode peluncuran. Kemampuan pengisian 30 hingga 80 persen dalam 15 menit diklaim jadi salah satu keunggulan teknis yang membedakannya dari kompetitor sekelas.

Leapmotor, nama yang baru mulai dikenal konsumen Indonesia, langsung membawa dua model sekaligus. B10 ditawarkan harga spesial sekitar Rp449 juta dari harga normal Rp499 juta. C10 yang berdimensi lebih besar dibanderol Rp618 juta, dengan promo Rp598 juta untuk 500 pemesan pertama. Motor listrik 220 kW pada C10 menghasilkan tenaga yang cukup untuk membuat sedan-sedan Jepang sekelas duduk tidak terlalu nyaman.

Begitu pula Lepas E4, merek lain asal China yang debut perdana di Indonesia. SUV ini mengklaim jarak tempuh lebih dari 600 kilometer dengan harga spesial GIIAS Rp339 juta, dilengkapi fitur V2L dan 18 sistem bantuan berkendara. Bukan angka main-main.

BAIC T1 hadir sebagai SUV crossover dengan baterai LFP 42,3 kWh dan jarak tempuh 425 kilometer berdasarkan standar CLTC. Harga khusus Rp373 juta berlaku untuk 1.000 konsumen pertama, sementara harga retail ditetapkan Rp393 juta.

Segmen premium punya ceritanya sendiri. Honda memperkenalkan Super-ONE, mobil listrik pertama Honda untuk Indonesia dengan desain retro bergaya lebih lebar dari N-One e: yang dijual di Jepang. Kapasitas baterai 29,6 kWh dengan estimasi jarak 270 kilometer standar WLTC, dilengkapi fitur Boost Mode yang mendongkrak tenaga hingga sekitar 95 PS. Pemesanan dibuka mulai 5 Agustus 2026, dalam jumlah terbatas.

Mazda ikut terjun dengan 6e Fastback, sedan listrik pertama Mazda untuk Indonesia, dihargai Rp850 juta OTR Jakarta. Lexus membawa dua kejutan: ES 350e, pertama kalinya lini ES punya varian listrik murni, hadir dengan baterai 77 kWh dan harga Rp1,480 miliar. Lalu RZ 600e F Sport Performance, yang tampil paling sangar dengan rem enam piston, pelek 21 inci, dan material karbon. Unit yang dipajang di GIIAS disebut berharga sekitar Rp3,5 miliar.

Rp2,269 miliar off the road. Itu angka yang diumumkan BMW untuk iX3 50 xDrive, debut pertama keluarga Neue Klasse di Indonesia. Sistem penggerak dua motor dengan tenaga sekitar 463 tk, baterai 109 kWh, dan pengisian cepat 400 kW yang diklaim mampu menambah jarak tempuh ratusan kilometer dalam 10 menit. Toyota melengkapi jajaran dengan bZ4X Touring, versi bodi panjang dari bZ4X, dihargai Rp889 juta dengan tenaga gabungan 280 kW dari dua motor listrik.

Ramai di pameran, tapi apakah membeli mobil listrik benar-benar masuk akal secara finansial?

Data dari pengguna yang sudah beralih cukup berbicara. Vemri Ardhika, pemilik Wuling Eksion yang sebelumnya memakai Toyota Fortuner, mengaku pengeluaran energinya turun drastis, dari sekitar Rp400.000 per minggu untuk solar Fortuner menjadi hanya Rp120.000 per minggu. Gregy, yang beralih dari Honda Freed ke BYD Atto 1, menghitung penghematannya lebih teliti. Biaya bensin tahunan yang dulu Rp14 juta hingga Rp18 juta kini menjadi sekitar Rp4,8 juta untuk listrik. Pajak tahunan pun merosot dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp400.000. Biaya servis, yang untuk mobil bensin bisa empat kali setahun dengan total sekitar Rp4 juta, diperkirakannya hanya Rp500.000 hingga Rp1 juta untuk kendaraan listrik. Total selisihnya bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp20 juta per tahun, belum termasuk komponen konsumabel seperti ban dan wiper.

Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai keunggulan biaya operasional EV memang cukup solid, terutama untuk pengisian di rumah. "Dari sisi biaya penggunaan sehari-hari, EV memang mempunyai keunggulan biaya operasional yang cukup kuat, terutama bila pengisian dilakukan di rumah," katanya. Biaya energi per kilometernya, kata Yannes, secara umum bisa 60 hingga 80 persen lebih rendah dibanding mobil bensin sekelas, meski angkanya sangat bergantung pada tarif listrik, harga BBM, dan efisiensi tiap kendaraan.

Namun Yannes mengingatkan bahwa konsumen yang semakin cerdas kini tidak sekadar membandingkan harga listrik versus bensin. "Mereka mulai menghitung Total Cost of Ownership selama beberapa tahun, mulai harga beli, bunga pembiayaan, asuransi, perawatan, kondisi dan garansi baterai, sampai nilai jual kembali," ucapnya. Keekonomian EV baru terasa menarik secara konsisten di kisaran 50 hingga 70 km pemakaian per hari, dan semakin kuat pada penggunaan 70 hingga 100 km per hari atau lebih. Bagi pengguna dengan jarak tempuh di bawah 30 km sehari, periode balik modalnya bisa lebih panjang dari yang diperkirakan.

Satu variabel lain yang belum sepenuhnya masuk hitungan kebanyakan konsumen: dari mana listrik itu berasal. Sumber energi yang masih banyak bertumpu pada batu bara membuat klaim "ramah lingkungan" kendaraan listrik perlu dibaca dengan sedikit lebih kritis. Bukan berarti EV tidak lebih bersih, bisa jadi memang lebih bersih, tapi seberapa bersih sangat bergantung pada bauran energi nasional yang masih terus berproses. Pertanyaan ini, entah kebetulan atau tidak, justru jarang muncul di keramaian lantai pameran.