Dua hari. Itu durasi gencatan senjata yang ditawarkan Moskow kepada Kyiv, bertepatan dengan perayaan Hari Kemenangan Perang Dunia II pada 8-9 Mei 2026.
Pengumuman itu pertama kali disampaikan Putin pekan lalu, dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump, sebelum dikonfirmasi lewat keputusan resmi yang keluar Senin. Kementerian Pertahanan Rusia menyebutnya sebagai penghormatan atas peringatan ke-81 kemenangan Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Patriotik Besar.
Tapi ada catatan yang tidak bisa diabaikan. Bersamaan dengan pengumuman itu, Moskow melontarkan ancaman terang-terangan: jika Ukraina melanggar jeda ini, Angkatan Bersenjata Rusia akan melancarkan "serangan rudal balasan besar-besaran ke pusat kota Kyiv." Warga sipil Kyiv dan staf misi diplomatik asing, kata mereka, perlu segera meninggalkan kota. Framing yang janggal, kalau ini memang dimaksud sebagai tawaran damai.
Zelenskyy tidak tinggal diam. Di sela KTT Komunitas Politik Eropa di Yerevan, ia menyebut gencatan senjata versi Moskow itu "tidak adil" dan mempertanyakan prosesnya. Kyiv, klaimnya, tidak pernah secara resmi diajak bicara. Moskow, kata Zelenskyy, hanya membahas kemungkinan gencatan senjata dengan pihak AS, bukan dengan Ukraina langsung.
Sebagai balasan, Zelenskyy menawarkan sesuatu yang lebih ambisius: gencatan senjata tanpa batas waktu. Bukan dua hari, bukan seminggu. Agaknya lebih baca sebagai manuver diplomatik untuk menelanjangi keseriusan Rusia ketimbang proposal yang benar-benar diharap diterima dalam waktu dekat.
Ini bukan pertama kali Moskow memainkan kartu gencatan senjata musiman. Sudah ritual. Awal Mei 2025, Rusia menangguhkan operasi ofensif untuk ulang tahun ke-80 kemenangan Soviet. Januari 2023, ada jeda untuk liburan Natal Ortodoks. April 2023 dan 2025, gencatan senjata Paskah diumumkan atas inisiatif Gereja Ortodoks Rusia. Bagi yang mengikuti konflik ini dari awal, polanya sudah terlalu familiar.
Pertanyaannya, berapa lama tawaran semacam ini masih bisa dijual sebagai gestur bermakna? Gencatan senjata dua hari yang diiringi ancaman rudal bukan cuma janggal secara diplomatik, ia juga cermin retak dari narasi perdamaian yang Moskow coba bangun. Kyiv, dan bisa jadi Washington, tampaknya sudah tahu jawabannya.