MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Gencatan Senjata AS-Iran Retak, Bursa Asia Terteka...

Bisnis

Gencatan Senjata AS-Iran Retak, Bursa Asia Tertekan dan Minyak Kembali Ngegas

Kurang dari 24 jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan, Iran menuduh tiga poin kesepakatan sudah dilanggar. Bursa Asia langsung berbalik melemah dan minyak Brent melonjak kembali ke kisaran US$97 per barel.

Euforia itu tidak bertahan lama.

Reli pasar global yang sempat terpicu oleh kabar gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran langsung kehilangan napas pada perdagangan Kamis (9/4), setelah Teheran menuding beberapa poin dalam kesepakatan tersebut sudah dilanggar bahkan sebelum tinta mengering. Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf secara eksplisit menyebut tiga poin proposal gencatan senjata yang diklaim sudah dilanggar. Ketidakpastian yang sehari sebelumnya sempat mereda, kembali menyala.

Indeks ekuitas MSCI Asia Pasifik tergerus 0,4%, dengan pelemahan merata di bursa Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Kontrak berjangka S&P 500 ikut melorot 0,2% di pembukaan perdagangan. Surat utang AS yang sempat reli langsung berbalik arah, begitu pula obligasi pemerintah Australia.

Pemicunya bukan cuma retorika. Israel, kurang dari 24 jam setelah pengumuman gencatan senjata, melancarkan serangan terbesar terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Iran menilai langkah itu sebagai pelanggaran terang-terangan dan menyatakan bisa menarik diri dari kesepakatan jika agresi terus berlanjut.

Pasar minyak langsung bereaksi keras. Brent crude melonjak 2,5% mendekati US$97 per barel pada perdagangan pagi ini, setelah sehari sebelumnya amblas lebih dari 13% ke level sekitar US$90, terendah dalam lebih dari sebulan. WTI juga terkerek 3,2% ke US$97,43 per barel. Pemulihan secepat ini, jujur saja, cukup mengejutkan bahkan untuk standar pasar minyak yang memang terkenal liar.

Selat Hormuz jadi pusat perhatian. Jalur vital yang biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia ini memang sempat dibuka kembali setelah pengumuman gencatan senjata. Iran bahkan mengeluarkan peta untuk memandu kapal menghindari ranjau. Tapi dalam hitungan jam, laporan media Iran menyebut lalu lintas tanker kembali terhenti setelah serangan Israel di Lebanon. Kantor berita Tasnim menyebut "sejumlah besar" kapal masih tertahan di jalur strategis itu.

Kapal yang ingin melintas pun tak bisa begitu saja lewat. Mereka wajib berkoordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran dan menggunakan jalur yang sudah ditentukan. "Transit melalui Selat Hormuz tidak serta-merta bebas risiko. Hal itu masih bergantung pada keputusan Iran," kata analis di Standard Chartered dikutip Reuters. Premi asuransi yang melonjak dan kendala operasional, menurut analis lembaga itu, akan sangat membatasi volume pasokan yang bisa masuk ke pasar global dalam dua pekan mendatang. Hormuz terbuka di atas kertas, tapi nyaris tertutup secara praktis.

Bagi pelaku pasar, ini skenario paling menjengkelkan: ketidakpastian yang nongkrong persis di ambang resolusi. "Pasar masih meragukan gencatan senjata dapat bertahan," tulis Haitong Futures dalam catatannya. Serangan Iran di fasilitas minyak kawasan sekitarnya pun dilaporkan masih berlanjut, termasuk pada pipa di Arab Saudi yang biasa digunakan untuk menghindari blokade Selat Hormuz. Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan serangan rudal dan drone. Bukan gambaran gencatan senjata yang meyakinkan.

Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan mengunjungi Pakistan untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata dengan Iran. Satu sinyal bahwa Washington belum menyerah pada proses negosiasi, meski di lapangan situasinya masih jauh dari kondusif.

IHSG sendiri kemarin membukukan lonjakan harian terbesar sejak April 2025, naik 4,4%, dan hari ini akan diuji apakah momentum itu cukup kuat untuk menembus level resistensi tren bear market di 7.340. Pertanyaannya, berapa lama reli itu bisa bertahan kalau Timur Tengah masih panas? Aset safe haven bergerak lebih teredam: emas dan logam industri seperti nikel serta tembaga turun tipis 0,2%, sementara indeks dolar AS (DXY) kembali menguat menembus level 99.

Soal gencatan senjata ini, agaknya pasar sudah belajar untuk tidak terlalu percaya. Yang tersisa bukan pertanyaan apakah kesepakatan ini akan bertahan, tapi berapa lama pelaku pasar masih mau memberinya benefit of the doubt.