Generasi Z Indonesia paling banyak mengadopsi kecerdasan buatan di antara semua kelompok usia. Tapi jangan bayangkan mereka sibuk bikin laporan otomatis atau menganalisis data. Yang paling banyak mereka lakukan dengan AI? Bikin video dan gambar generatif. Hiburan, bukan produktivitas.
Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat 36,5% pengguna AI di Indonesia memanfaatkan teknologi itu untuk keperluan hiburan seperti konten generatif. Angka itu jauh meninggalkan edukasi dan riset di posisi kedua dengan 30,2%, lalu produktivitas pekerjaan yang hanya menyentuh 26,9%. Asisten suara macam Siri atau Google Assistant? Cuma 6,4%. Nyaris tidak dianggap.
Survei ini cukup solid. Delapan ribu tujuh ratus responden WNI berusia minimal 13 tahun, tersebar proporsional di 38 provinsi, diwawancara langsung dengan margin of error ±1,1%.
Gen Z memimpin adopsi AI dengan 29,4% pengguna, disusul Millennial 16,7%, Gen X 7,5%, dan Baby Boomers yang angkanya cuma 0,8%. Khusus di kalangan Gen Z yang sudah pakai AI, 44,4% memilihnya untuk hiburan. Berbanding dengan Millennial di 34,2% dan Gen X di 33,3%. Menariknya, Baby Boomers yang pakai AI tercatat 100% menggunakannya untuk hiburan, meski populasinya sangat kecil.
Pertanyaannya: apakah potensi AI untuk mendorong produktivitas ekonomi belum terserap, atau memang belum relevan buat segmen ini?
Bisa jadi keduanya. Tapi ada lapisan lain dari potret Gen Z yang sering luput dari percakapan soal AI.
Separuh dari mereka, ternyata, menyimpan ambisi wirausaha. Data dari Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menunjukkan minat berwirausaha yang tinggi di kalangan Gen Z, sejalan dengan target pemerintah mendongkrak rasio kewirausahaan nasional dari 3,29% saat ini ke 3,6% pada 2029. Selisihnya terdengar tipis, tapi dalam skala populasi Indonesia, itu setara jutaan entri baru ke pasar kerja.
Kementerian UMKM menegaskan peningkatan rasio kewirausahaan sebagai salah satu strategi paling efektif menekan pengangguran dan kemiskinan. Penguatan kolaborasi antara pelaku UMKM dan usaha besar, kata kementerian, jadi kunci menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang, dalam bahasa resmi mereka, "kian dinamis."
Dibaca bersama, dua data ini membentuk gambar yang agak berbeda dari narasi "anak muda cuma main-main AI." Gen Z yang hari ini rajin eksplorasi alat generatif bisa jadi sedang, entah sadar atau tidak, membangun fondasi bisnis kreatif. Ekosistem kreator digital Indonesia sudah terbukti melahirkan bisnis bernilai miliaran. AI generatif justru memangkas habis biaya masuk ke industri itu.
Jadi narasi "AI cuma untuk hiburan" itu, kalau dipikir lagi, terlalu cepat menyimpulkan. Agaknya yang lebih akurat: mereka sedang akrab dulu dengan alatnya, sambil diam-diam menyiapkan ladang.