Garuda Indonesia berhasil menyelinap ke dalam daftar bergengsi yang selama ini didominasi maskapai Asia Timur dan Timur Tengah. Dalam studi terbaru Canstar Travel Insurance yang menganalisis lebih dari 125.000 ulasan penumpang dari situs aviasi global, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menempati peringkat ke-10 maskapai penerbangan dengan makanan pesawat terenak di dunia untuk 2026. Dari 100 maskapai yang dianalisis, Garuda satu-satunya wakil Asia Tenggara di jajaran sepuluh besar.
Yang mengejutkan banyak pihak, bukan Qatar Airways atau Singapore Airlines yang bercokol di puncak. Aegean Airlines, maskapai asal Yunani yang jauh lebih kecil dari para pesaingnya, justru meraih skor tertinggi: 7,82 dari 10. Maskapai ini dinilai unggul berkat sajian hidangan segar bernuansa regional yang konsisten di semua kelas kabin, dari ekonomi hingga bisnis, ditambah keramahan khas Mediterania yang rupanya meninggalkan kesan kuat di benak penumpang.
Qatar Airways menyusul di posisi kedua dengan skor 7,68, terpaut tipis dari sang juara. Reputasi Qatar sebagai maskapai premium memang tidak perlu diragukan: presentasi makanan, kualitas bahan, dan nuansa restoran mewah di dalam kabin sudah lama jadi daya tarik utamanya.
Deret peringkat berikutnya dikuasai nama-nama dari Asia Timur. Asiana Airlines (Korea Selatan) di posisi ketiga dengan skor 7,61, diikuti EVA Air (Taiwan) di peringkat keempat dengan 7,56, lalu Singapore Airlines di urutan kelima dengan 7,55. Korean Air, All Nippon Airways, dan Japan Airlines melengkapi delapan besar. Korea Selatan dan Jepang, dua negara dengan representasi terbanyak di sepuluh besar. Kuwait Airways menempati posisi kesembilan sebelum Garuda menutup daftar.
"Makanan maskapai penerbangan sudah lama menjadi bahan lelucon, tetapi maskapai penerbangan besar sekarang memahami bahwa pengalaman dalam penerbangan sangat penting di pasar yang sangat kompetitif ini," demikian pernyataan Canstar Travel Insurance, dikutip dari New York Post. Kalimat itu agaknya menjelaskan mengapa Qantas hanya ada di peringkat ke-51, British Airways di ke-54, dan Air France bahkan melorot ke posisi ke-70. Nama besar, bukan jaminan.
Bagi Garuda, masuk peringkat ke-10 bukan pencapaian kecil. Terutama mengingat tekanan finansial yang masih menghantui perjalanan pemulihan maskapai pelat merah ini. Posisi ini bisa jadi amunisi tambahan untuk menarik kembali penumpang yang selama ini masih ragu, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin preferensi riil penumpang global.
Soal makanan, ternyata, masih jadi pembeda yang diperhitungkan. Di era ketika loyalitas penumpang semakin mahal harganya, seporsi hidangan yang tepat di ketinggian 35.000 kaki rupanya tidak bisa dianggap remeh.