Harta kekayaan Widiyanti Putri, menteri terkaya di kabinet Prabowo, kembali bertambah. Laporan LHKPN terbaru mencatat total kekayaan Menteri Pariwisata itu kini menyentuh Rp 6 triliun, setelah naik sekitar Rp 900 miliar dibanding periode pelaporan sebelumnya. Angka yang, jujur saja, tidak lazim bahkan di kalangan pejabat publik kelas atas sekalipun.
Dari sekian pos aset dalam laporan itu, lini transportasi dan mesin justru yang paling ramai dibicarakan. Nilainya paling kecil secara proporsi, tapi isinya bukan sembarangan. Enam unit kendaraan premium dari merek yang namanya cukup bikin orang berhenti scroll: Mercedes-Benz, Bentley, Lexus. Nilai akumulatifnya mencapai Rp 24,102 miliar, naik Rp 4,639 miliar dari laporan sebelumnya.
Puncak koleksi itu adalah Mercedes-Benz G63 keluaran 2025, sekaligus unit dengan nilai tertinggi di garasinya. Di pasaran Indonesia, G63 dibanderol mulai Rp 7,95 miliar. SUV berpostur kekar ini dibekali mesin 4.0 liter V8 yang menyemburkan 585 tenaga kuda pada 6.000 rpm dan torsi maksimal 850 Nm pada putaran 2.500-3.500 rpm. Transmisi AMG Speedshift TCT 9G menyalurkan tenaga itu ke empat roda. Akselerasi 0-100 km/jam selesai dalam 4,4 detik. Kecepatan puncak 240 km/jam, sementara konsumsi BBM-nya di kisaran 6,3 hingga 6,8 km per liter, agaknya bukan variabel yang terlalu dipertimbangkan pemiliknya.
Seluruh kendaraan dalam daftar LHKPN tercatat berstatus "hasil sendiri". Bukan warisan, bukan pemberian. Ragamnya cukup lebar: dari sedan hingga SUV tangguh, dari Jerman hingga Inggris, rata-rata tidak ada yang harganya di bawah miliaran rupiah per unit.
Widiyanti dikenal sebagai pengusaha jauh sebelum masuk kabinet. Bukan tipikal birokrat karir yang tiba-tiba kaya mendadak. Sebagian besar kekayaannya yang melampaui Rp 6 triliun itu tersimpan dalam aset tanah, bangunan, dan surat berharga. Kendaraan mewah itu hanya secuil dari portofolionya, tapi justru bagian yang paling mudah divisualisasikan publik. Cermin retak, kalau boleh bilang, dari ketimpangan yang sulit dijelaskan hanya lewat angka neraca.
Pertanyaannya sederhana: kalau harta seorang menteri naik Rp 900 miliar dalam satu siklus pelaporan, sektor mana yang ia mainkan? Bisa jadi, di situlah petunjuknya tersembunyi.