RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  G316 X 98 dan G305 X Superlight: Logitech Serang D...

Tekno

G316 X 98 dan G305 X Superlight: Logitech Serang Dua Segmen Sekaligus

Logitech luncurkan dua perangkat gaming sekaligus: keyboard mekanikal G316 X 98 dengan report rate 8 kHz dan mouse G305 X Superlight berbobot 59 gram dengan sensor Hero 44K DPI, keduanya dibandrol di bawah Rp1,7 juta.

When the whole gang is ready to go pro. . . . #logitechg #gaming #gaminggear #PROXSUPERLIGHT2DEX

Logitech G tampaknya bosan menunggu pasar premium bergerak. Lewat dua produk yang diluncurkan hampir bersamaan, perusahaan asal Swiss ini langsung mengincar segmen yang selama ini paling keras berteriak soal value: gamer kompetitif yang menghitung setiap rupiah tapi tidak mau kompromi soal performa.

Yang pertama adalah G316 X 98, keyboard gaming mekanikal 98 tuts yang masuk dalam ekosistem G3 Series. Desain snap-fit gasket-nya menghasilkan suara ketukan dalam dan padat, yang oleh komunitas mekanik keyboard disebut "thocky", sensasi yang biasanya hanya bisa dinikmati lewat keyboard custom buatan tangan dengan harga berlipat ganda. Switch hot-swappable memberi kebebasan mengganti switch tanpa solder, fitur yang terbilang mewah di kelas harganya.

Report rate 8 kHz dengan latency 0,125 ms. Angka yang tidak banyak keyboard di bawah Rp2 juta bisa klaim. Setara dengan perangkat high-end yang biasa nongkrong di setup para streamer profesional. Di sisi tampilan, dot-matrix LED display dan control dial memungkinkan pengguna mengatur preset performa atau makro tanpa harus membuka aplikasi, sementara 30 zona light bar RGB per-tombol bisa dikustomisasi lebih lanjut lewat Logitech G Hub.

Yang kedua, dan agaknya lebih memantik perhatian komunitas gaming, adalah G305 X Superlight. Bukan iterasi biasa. Ini transformasi total dari G305 klasik yang selama bertahun-tahun dihajar kritik karena bobotnya terlalu besar untuk standar kompetisi modern. Biang keladinya jelas: ketergantungan pada baterai AA sekali pakai yang tebal. Generasi baru ini membuang sepenuhnya konsep tersebut, beralih ke baterai internal rechargeable, dan hasilnya bobot menyusut dramatis ke angka 59 gram.

Sensor Hero generasi terbaru yang tertanam di dalamnya diklaim sanggup menjangkau sensitivitas 44.000 DPI, akselerasi di atas 40G, dan kecepatan tracking 678 inci per detik. Secara default, polling rate berjalan di 1.000Hz lewat dongle USB-A yang disertakan. Bagi yang mau nge-push latensi ke batas minimum, PRO Wireless Receiver yang dijual terpisah bisa mendongkraknya hingga 8.000Hz. Tiga mode koneksi tersedia: Lightspeed 2.4GHz, Bluetooth, dan kabel via USB-C.

Baterai diklaim tahan 130 jam pemakaian terus-menerus. Fast charging dua menit untuk 3,5 jam penggunaan, fitur kecil yang dampaknya besar bagi siapa pun yang pernah kehabisan daya saat ranked match paling krusial.

Ada satu detail desain yang patut dicermati, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal arah produk Logitech ke depan: sekrup di bodi luar mouse sengaja diekspos. Keputusan ini disebut sebagai langkah mempermudah pengguna yang ingin membuka atau merawat sendiri perangkatnya, memperpanjang usia pakai jangka panjang. Entah kebetulan atau tidak, pendekatan ini juga selaras dengan komitmen keberlanjutan yang mereka tunjukkan lewat penggunaan material plastik daur ulang pasca-konsumsi: 65 persen untuk varian hitam, 51 persen untuk varian putih.

Soal harga, G316 X 98 dibanderol Rp1.629.000 dan sudah tersedia di Indonesia. G305 X Superlight ditetapkan di kisaran $79,99 atau sekitar Rp1,3 juta, dengan jadwal masuk pasar global mulai 30 Juni 2026. Keduanya hadir dalam pilihan warna hitam dan putih.

Bersamaan dengan peluncuran ini, Logitech juga sempat memperlihatkan prototipe mouse lipat portabel pertama mereka, sebuah perangkat yang bodinya bisa dilipat dua dan muat di saku baju. Masih purwarupa. Tapi cukup untuk memancing rasa penasaran pasar.

Pertanyaannya, apakah Logitech benar-benar bisa menjaga harga di titik ini sambil terus menaikkan standar spesifikasi? Kalau duo ini jadi patokan, jawabannya mulai terlihat.