RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Ferrari Luce EV Panen Hujatan, Lamborghini Bilang...

Bisnis

Ferrari Luce EV Panen Hujatan, Lamborghini Bilang Sudah Tahu

Saham Ferrari anjlok 8 persen di Milan setelah peluncuran Luce EV, sementara Lamborghini yang batal masuk pasar mobil listrik murni justru merasa pilihannya terbukti tepat.

Mobil Listrik Ferrari Panen Hujatan, Lamborghini Bilang Begini

Saham Ferrari rontok sekitar 8 persen di Bursa Milan dan lebih dari 5 persen di New York, hanya dalam hitungan hari setelah peluncuran Luce EV. Bukan karena kinerja keuangan, bukan skandal manajemen. Pasar bereaksi terhadap desain.

Luce EV, mobil listrik pertama Ferrari N.V. (RACE), lahir dari tangan Jony Ive, mantan Chief Design Officer Apple yang kondang lewat estetika minimalis iPhone dan iMac. Hasilnya: sedan eksekutif beratap membulat bergaya "bubble top", interior serba layar, dan proporsi tubuh yang lebih mengingatkan pada Tesla Model S Plaid ketimbang supercar Maranello. Dimensinya besar, tidak ramah gang-gang kota tua Italia. Baterai 122 kWh menyuplai tenaga 1.035 dk, torsi 990 Nm, jangkauan hingga 530 kilometer. Angka yang tidak main-main.

Tapi pasar tidak membeli angka. Pasar membeli identitas.

Reaksi negatif datang dari segala penjuru. Para Tifosi, penggemar setia Ferrari, ramai mempertanyakan ke mana perginya ruh "Il Cavallino Rampante" yang selama ini identik dengan mesin buas dan desain emosional. Yang lebih menohok, kritik datang dari dalam lingkar Ferrari sendiri. Luca di Montezemolo, mantan bos yang memimpin era kejayaan Maranello selama bertahun-tahun, tidak menyembunyikan kekecewaan. "Kalau saya mengatakan apa yang benar-benar saya pikirkan, saya justru akan merugikan Ferrari. Kita berisiko menghancurkan sebuah legenda, dan saya benar-benar menyesal akan hal itu. Saya harap mereka setidaknya melepas logo kuda jingkrak dari mobil tersebut," kata Montezemolo. Soal tiruan, dia melempar sindir yang agaknya lebih pedas dari sekadar kritik desain: "Setidaknya, ini jelas mobil yang tidak akan ditiru oleh orang-orang Cina."

Matteo Salvini, Menteri Transportasi sekaligus Wakil Perdana Menteri Italia, ikut angkat suara. "Mobil listrik ini sangat mahal dan secara estetika, biarkan desainnya yang bicara sendiri. Bentuknya sama sekali tidak terlihat seperti mobil Ferrari. Dan ini yang disebut inovasi? Saya jadi bertanya-tanya, apa yang akan dikatakan Enzo Ferrari soal ini?" sindir Salvini.

CEO Ferrari Benedetto Vigna memilih tidak terpancing. Vigna justru menegaskan ketertarikan konsumen terhadap Luce EV terbilang kuat, termasuk dari pembeli baru yang sebelumnya bukan pelanggan Ferrari. Sekitar 1.600 calon konsumen hadir menyaksikan langsung Luce di Roma, keran pemesanan dibuka beberapa hari setelahnya, disertai transfer bank dari klien yang langsung antusias. Angka pasti pesanan akan diumumkan Juli mendatang. Banderol 550.000 euro, setara sekitar Rp9,6 miliar dengan kurs saat ini, dianggap wajar untuk sebuah inovasi. "Jika Anda melihat dan mencobanya, Anda akan langsung memahami bahwa mobil ini bukan hasil tiruan dan tak memiliki kesamaan dengan mobil listrik lain yang pernah Anda lihat," tegas Vigna.

Dari Sant'Agata Bolognese, rival abadi Ferrari menonton dari jarak aman. Lamborghini, yang sebelumnya merencanakan versi produksi Lanzador sekaligus varian listrik dari SUV Urus, sudah mundur dari rencana itu dan berkonsentrasi pada plug-in hybrid. Keputusan yang kini makin mudah dipertahankan.

CEO Lamborghini Stephan Winkelmann tidak menyebut Ferrari secara langsung, tapi pesannya tidak perlu ditafsir ulang. "Dengan mengamati pasar, kami melihat tingkat penerimaan kendaraan listrik di kalangan pelanggan kami tidak meningkat. Karena itu kami memutuskan menjauh dari mobil listrik penuh dan beralih ke plug-in hybrid," kata Winkelmann. Inovasi, menurutnya, tidak boleh dipaksakan jika konsumen belum siap menerima. Konsumen Lamborghini, bisa jadi, masih ingin merasakan sensasi mesin pembakaran internal yang kini dibalut teknologi hybrid.

Lamborghini bukan satu-satunya yang mengoreksi haluan. Sejumlah pabrikan global sudah memangkas investasi kendaraan listrik setelah pertumbuhan permintaan terbukti tidak secepat proyeksi. Kurva adopsi EV di segmen supercar, entah kebetulan atau tidak, punya dinamika tersendiri dibanding segmen massal.

Pertanyaannya belum terjawab: apakah kritik hari ini berubah menjadi kultus di masa depan, seperti yang kerap terjadi pada desain kontroversial sebelumnya? Atau Luce EV justru akan tercatat sebagai momen ketika Ferrari terlalu jauh meninggalkan dirinya sendiri?