KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  FCAS Kandas: Eropa Kehilangan Simbol Paling Ambisi...

Internasional

FCAS Kandas: Eropa Kehilangan Simbol Paling Ambisius Persatuan Pertahanannya

Proyek jet tempur generasi keenam senilai lebih dari 100 miliar euro antara Prancis dan Jerman resmi dibatalkan, menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan kerja sama pertahanan Eropa di tengah ancaman dari Rusia dan tekanan Amerika Serikat.

Proyek Jet Tempur Bersama Kandas, Eropa Hadapi Dilema Pertahanan

Proyek bernilai lebih dari 100 miliar euro yang hampir satu dekade digadang sebagai simbol paling konkret dari ambisi pertahanan bersama Eropa itu akhirnya resmi dikubur. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pekan lalu mengakui hal yang sudah lama dicurigai banyak pihak: Dassault Aviation dan Airbus gagal menjembatani perselisihan mereka, dan proyek Future Combat Air System (FCAS) dalam komponen intinya tidak akan pernah terwujud.

Pengumuman itu datang di waktu yang agak ironis. Tepat menjelang Eurosatory 2025, pameran pertahanan terbesar Eropa di Villepinte, Paris, yang mestinya jadi etalase kejayaan industri militer benua biru. Lebih dari 2.000 peserta pameran hadir, buku pesanan menggemuk, dan investasi ratusan miliar euro mengalir dari pemerintah-pemerintah yang ingin mandiri dari Washington. Optimisme itu dibayangi runtuhnya proyek paling ambisius yang pernah mereka bangun bersama.

FCAS diluncurkan Macron dan mantan Kanselir Angela Merkel pada 2017, sebagai respons terhadap Brexit dan terpilihnya Donald Trump pertama kali. Pesawat tempur generasi keenam ini dirancang menggantikan Eurofighter dan Rafale sekitar tahun 2040, dilengkapi combat cloud dan drone wingmen yang akan mengubah jet tempur menjadi semacam komandan udara di tengah kawanan mesin otonom. Visi yang besar. Terlalu besar, agaknya.

"Pelajaran pertama adalah Jerman dan Prancis ternyata tidak menginginkan pesawat yang sama," kata pensiunan Jenderal Prancis Michel Yakovleff, dengan nada yang terdengar seperti seharusnya sudah disadari sejak awal. Di industri, banyak yang justru heran mengapa butuh waktu delapan tahun hingga kenyataan ini diakui secara resmi.

Perbedaannya bukan soal detail teknis kecil. Prancis, dengan tradisi panjang pesawat tempur multiperan sejak era Mirage hingga Rafale, menginginkan jet yang mampu menyusup, duel udara, menjatuhkan bom, dan meluncurkan rudal jelajah, termasuk untuk misi nuklir. Jerman, yang sejak Perang Dunia II belum pernah memproduksi jet tempur sendiri dan tidak punya senjata nuklir maupun kapal induk, lebih mencari kemampuan dogfight tradisional dan bahkan pernah mempertanyakan apakah pesawat itu perlu pilot sama sekali.

Dua kebutuhan militer yang berbeda, dua filosofi perang yang berbeda. Ditambah dua perusahaan yang tidak bisa satu ruangan tanpa berseteru soal hak kekayaan intelektual dan kepemimpinan proyek. Dassault, yang secara luas disebut sebagai mitra yang sulit diajak bekerja sama, menuntut kendali jauh lebih besar dibanding Airbus. Perselisihan teknis berubah menjadi perang dominasi teknologi masa depan. Bak api dalam sekam, sudah membara lama sebelum akhirnya meledak.

"Di tingkat pemerintahan, tangan kami terikat. Pemerintah Jerman dan Prancis sebenarnya sangat ingin melanjutkan proyek ini," ungkap Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, yang secara terbuka menuding industri sebagai biang kerok kegagalan ini.

Senator Prancis Cedric Perrin punya kesimpulan yang lebih pedas. Macron, kata dia, adalah satu-satunya pihak yang masih percaya FCAS bisa diselamatkan. "Sejak awal, tidak semua pihak berada pada frekuensi yang sama," tambahnya.

FCAS pun bukan satu-satunya proyek yang oleng. Program tank tempur bersama Prancis-Jerman, Main Ground Combat System (MGCS), kini juga terancam. Kepala Rheinmetall, Armin Papperger, mengungkap Paris sedang mempertimbangkan pemangkasan pendanaan besar-besaran untuk proyek itu, meski ia menegaskan belum ada keputusan final. Macron sendiri berulang kali memperingatkan bahwa jika FCAS gagal, MGCS bisa mengalami nasib serupa. Ramalan itu kini terasa sangat dekat dengan kenyataan.

Program Eurodrone yang dikerjakan empat negara, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol, juga tersandung kenaikan biaya dan keterlambatan. Belum gagal, tapi pertanyaan soal nilai militernya kian keras terdengar.

Di balik semua ini ada dinamika yang lebih dalam. Industri pertahanan Jerman melaju kencang, dan itu yang bikin Paris gelisah. Rheinmetall, yang menargetkan menjadi produsen pertahanan terbesar Eropa pada 2030, bahkan sudah memperkenalkan tank Panther KF51 di Eurosatory empat tahun lalu sebagai alternatif MGCS. Langkah bisnis yang rasional. Tapi efeknya telak: tekanan untuk berkompromi dalam proyek bersama amblas.

Perrin merangkum keretakan ini dengan kalimat yang cukup telak: "Kita telah beralih dari ambisi yang berbeda menjadi ambisi yang saling bersaing."

Masih ada harapan tipis. Jerman dan Prancis berencana mengalihkan fokus pada Combat Cloud, sistem jaringan yang menghubungkan pesawat, drone, dan sensor dalam satu ekosistem tempur. Para pejabat pertahanan dijadwalkan bertemu pertengahan Juli untuk merancang ulang kerja sama melalui proyek-proyek yang lebih kecil dan realistis. Entah itu kata eufemisme atau memang strategi baru yang lebih matang, belum ada yang bisa memastikan.

Merz sendiri masih optimis. "Keahlian dalam membuat pesawat militer ada di Jerman. Industri Jerman kini harus membuktikan kemampuannya," tegasnya, seraya menyerukan kerja sama dengan mitra lain.

Bagi sebagian pengamat, kalimat itu justru menangkap akar masalahnya dengan sempurna: masing-masing pihak kini lebih sibuk membuktikan kemampuan nasionalnya sendiri daripada membangun sesuatu bersama-sama.