Belum selesai satu aksi korporasi, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) sudah pasang ancang-ancang untuk babak berikutnya. Sehari setelah melaporkan realisasi buyback Rp99,85 miliar per 2 September 2026, perseroan langsung mengumumkan rencana pembelian kembali saham baru senilai maksimal Rp500 miliar. Lima kali lipat dari program sebelumnya.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Head of Legal & Corporate Secretary Erajaya Amelia Allen menyatakan perseroan berencana melakukan pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan dan tercatat di BEI. Aksi ini mengacu pada Peraturan OJK No. 13 Tahun 2023 serta Surat Edaran OJK No. S-10/D.04/2026, dengan pelaksanaan secara bertahap melalui BEI selama tiga bulan, terhitung 4 September 2026 hingga 4 Desember 2026.
Program buyback sebelumnya, yang dimulai berdasarkan keterbukaan informasi tertanggal 29 Mei 2026, berhasil menyerap 236,27 juta saham dengan harga rata-rata Rp422,64 per saham. Total saham treasuri ERAA kini mencapai 601,59 juta eksemplar. Tidak kecil, untuk ukuran emiten ritel elektronik.
Pasar agaknya menyambut sinyal ini dengan antusias. Sepanjang perdagangan kemarin, ERAA melejit 4,42 persen ke level Rp520. Sejak awal tahun, saham ini sudah mengakumulasi kenaikan 26,21 persen dari posisi Rp412 pada 2 Januari 2026. Dalam rentang 52 minggu, ERAA pernah menyentuh Rp530 di puncaknya dan Rp314 di titik terendah. Kapitalisasi pasar kini berdiri di Rp8,26 triliun dengan PER 5,80 kali, valuasi yang masih terbilang murah untuk emiten dengan pertumbuhan laba sederas ini, kalau data ini bisa dipercaya.
Semester pertama 2026, ERAA memang tampil solid. Laba bersih Rp784,02 miliar, melonjak 37,96 persen dari Rp568,29 miliar di periode sama tahun lalu. Penjualan tembus Rp42,89 triliun, terkerek 22,4 persen year-on-year dari Rp35,04 triliun. Laba usaha tercatat Rp1,43 triliun, tumbuh dari Rp1,12 triliun. Bukan main.
Katalis berikutnya sudah di depan mata. Apple dijadwalkan merilis iPhone 18 Pro, iPhone 18 Pro Max, dan iPhone Ultra pada 9 September 2026 waktu Amerika Serikat, atau dini hari 10 September WIB. Sebagai distributor resmi produk Apple di Indonesia, ERAA secara historis selalu ketiban berkah setiap kali ada peluncuran lini flagship baru. Kali ini bisa lebih besar dari biasanya. Harga jual iPhone 18 Pro diperkirakan lebih mahal dari generasi sebelumnya, imbas lonjakan harga chip yang didorong tren kecerdasan buatan, bak gayung bersambut dengan momentum buyback yang sudah lebih dulu mengangkat sentimen.
Dua katalis sekaligus hadir bersamaan: buyback agresif yang menjaga lantai harga, ditambah momentum peluncuran produk yang secara langsung mengerek prospek penjualan. Pertanyaannya, sampai mana ERAA bisa berlari sebelum profit-taking mulai menghantam?