Enam unit Interbus Transformer (IBT) 500/150 kV sudah mendarat di Pelabuhan Mirah, Tanjung Perak, Surabaya. Bukan komponen sembarangan.
Trafo berukuran jumbo ini didatangkan PT PLN (Persero) lewat Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Timur dan Bali (UIP JBTB) untuk proyek Gas Insulated Substation Tegangan Ekstra Tinggi (GISTET) 500 kV Waru. Infrastruktur yang diproyeksikan jadi tulang punggung distribusi listrik berdaya besar di Surabaya metropolitan, menyasar kawasan industri, pusat bisnis, sampai permukiman padat di sekitarnya.
Dalam sistem kelistrikan, IBT punya peran yang tidak bisa digantikan. Fungsinya: menurunkan tegangan 500 kV ke sistem 150 kV supaya distribusi listrik menjangkau lebih luas dengan andal. Kalau GISTET Waru kelak jadi jantung jaringan listrik Surabaya, maka keenam IBT ini katup-katupnya.
"Trafo ini 'jantung' dari GISTET Waru yang nantinya akan menopang kebutuhan listrik yang terus meningkat di Surabaya dan sekitarnya," kata General Manager PLN UIP JBTB Hendro Prasetyawan, Sabtu (11/4).
Hendro menambahkan, tibanya material utama ini jadi indikator bahwa rantai pasok dan tahapan konstruksi berjalan sesuai target. Bukan perkara gampang, kalau melihat rekam jejak proyek infrastruktur berskala serupa di Indonesia.
Tapi tantangan belum berhenti di dermaga. Dimensi dan bobot keenam trafo memaksa PLN memakai kendaraan khusus multi-axle untuk mobilisasi dari Tanjung Perak ke lokasi proyek di Waru. Pengangkutan dilakukan bertahap, dijadwalkan pada jam-jam sepi demi menekan risiko kemacetan. Masif. Manajemen PLN UIP JBTB bahkan sudah menyampaikan permohonan maaf kepada warga di sepanjang rute distribusi atas potensi gangguan lalu lintas.
Pertanyaannya, berapa sering kita melihat pemandangan seperti ini? Konvoi kendaraan besar merayap pelan di jalur Waru suatu malam, membawa komponen vital yang sehari-hari tidak pernah dipikirkan siapa pun. Itulah harga dari keandalan listrik yang selama ini dianggap begitu saja.