Tiga bulan berturut-turut. Segitu lamanya harga emas dunia mencatat pelemahan, dan Mei 2026 menggenapi tren itu dengan momentum yang tidak ringan. Yang bikin situasi ini menarik, atau lebih tepatnya membingungkan, adalah sumber tekanannya bukan pasar yang sedang euforia tanpa alasan, melainkan konflik di Selat Hormuz yang secara logika harusnya mendorong pelarian ke safe haven. Kali ini, skenario itu berbalik arah.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas Saxo Bank, punya penjelasan soal ini. Gangguan di Selat Hormuz mendorong harga minyak, gas, dan bahan bakar olahan tetap tinggi, dan itu menciptakan hambatan tersendiri bagi emas. Inflasi naik, tapi jenis inflasi yang salah dari sudut pandang pemegang emas: imbal hasil obligasi ikut terangkat, dolar AS menguat. Padahal emas secara historis paling bersinar justru saat inflasi datang bersamaan dengan imbal hasil riil yang melemah dan dolar yang loyo. Bukan sebaliknya.
"Guncangan energi yang didorong oleh pasokan mendorong inflasi lebih tinggi sekaligus mendukung imbal hasil dan dolar. Kombinasi ini dapat untuk sementara melemahkan daya tarik emas meskipun harga konsumen meningkat," jelas Hansen.
Belum selesai di situ. Koreksi emas juga bertepatan dengan reli pasar saham global ke level tertinggi sepanjang masa. Selera risiko investor terangkat. Sebagian bank sentral pun terpaksa melikuidasi cadangan emas mereka, ada yang untuk menopang mata uang domestik, ada yang untuk mengimbangi lonjakan biaya energi impor. Aksi jual dari dua arah sekaligus.
Tapi sebelum terlalu pesimistis, lihat dulu angkanya. Secara year-to-date 2026, emas masih naik 5%. Rentang satu tahun? Naik 36%. Dua tahun terakhir, logam kuning ini sudah mengapresiasi 91%. Bukan main.
Secara teknikal, Hansen mencatat harga emas terus mendapat dukungan di dekat rata-rata pergerakan 200 hari, saat ini di kisaran US$ 4.400 per troy ounce. Level ini sudah diuji dua kali selama koreksi belakangan ini, dan setiap kali muncul minat beli baru yang cukup untuk menahan kejatuhan lebih dalam. Agaknya investor jangka panjang belum benar-benar angkat kaki.
Kapan emas bisa berbalik? Banyak investor kini dalam mode tunggu, menunggu kejelasan dari front Timur Tengah sebelum menambah eksposur. Hansen percaya bahwa begitu fokus pasar bergeser dari fluktuasi harian harga energi dan berita geopolitik, perhatian akan kembali ke pendorong struktural yang selama ini jadi tulang punggung reli multitahun emas: kekhawatiran terhadap lonjakan utang pemerintah, risiko de-dolarisasi cadangan global, inflasi yang masih membandel, dan permintaan bank sentral yang secara agregat tetap stabil.
Apakah ini sekadar optimisme analis yang sudah terlanjur bullish? Bisa jadi, setidaknya itu yang selalu jadi bantahan pertama. Tapi kalau melihat tren diversifikasi cadangan yang terus menggeser porsi dolar, ditambah ekspansi fiskal yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda di negara-negara besar, argumen Hansen sulit diabaikan begitu saja.
Bagi investor ritel yang posisinya sudah terbentuk di harga lebih rendah, koreksi ini mungkin tidak terlalu menyakitkan. Yang lebih perlu berhati-hati justru mereka yang masuk belakangan dan kini nyangkut di level atas, sembari berharap katalis pembalikan datang lebih cepat dari perkiraan. Pertanyaannya: seberapa sabar mereka bisa menunggu?