Setelah beberapa waktu dihajar tekanan jual, emas mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Harga XAU/USD pada timeframe H4 berhasil bertahan di area support USD4.430, level yang kini menjadi garis pertahanan kritis sebelum pasar memutuskan arah berikutnya.
Yang membuat sinyal ini layak dicermati bukan sekadar soal harga mentok di support. Terbentuknya swing low di area tersebut mengindikasikan tekanan jual mulai kehabisan amunisi, sementara buyer perlahan kembali mengisi posisi. Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menyebut kondisi ini sebagai indikasi pasar sedang berupaya menghentikan tren penurunan yang berlangsung sebelumnya.
Pergerakan harga juga membentuk pola Falling Wedge, sinyal teknikal klasik yang kerap mendahului pembalikan dari bearish ke bullish. Pola ini muncul ketika setiap penurunan harga makin dangkal, bak pegas yang semakin ditekan sebelum akhirnya melenting. "Jika momentum penguatan terus berlanjut, harga emas berpeluang menguji area resistance pertama di level USD4.496," ungkap Geraldo dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 4 Juni 2026.
Indikator stochastic turut mengonfirmasi. Posisinya bergerak naik, menandakan peningkatan momentum beli. Agaknya cukup untuk membuat trader mulai melirik posisi long setelah sebelumnya wait-and-see.
Kalau USD4.496 berhasil ditembus, target berikutnya ada di USD4.526. Level resistance kedua ini yang sesungguhnya menjadi ujian besar: apakah rebound kali ini hanya sekadar technical bounce atau awal dari tren bullish yang lebih panjang. Pertanyaan yang belum bisa dijawab hari ini.
Ada skenario yang perlu diwaspadai. Kegagalan harga keluar dari pola Falling Wedge, atau kembali amblas di bawah support USD4.430, bisa jadi sinyal bahwa tekanan jual belum benar-benar selesai. Pelaku pasar yang sudah nyangkut di posisi beli sebelumnya tentu berharap skenario itu tidak terjadi.
Bagi investor ritel yang memantau harga emas fisik, pergerakan XAU/USD ini tetap relevan sebagai acuan arah. Kurs dan selisih harga beli-jual memang memengaruhi harga akhir di tingkat konsumen, tapi tren globalnya, entah kebetulan atau tidak, hampir selalu mendahului pergerakan harga lokal beberapa jam kemudian.