Sepanjang pekan ini, emas kembali berkilau. Harga logam mulia di pasar global menguat sekitar 6 persen dalam tujuh hari terakhir, menghapus level terendah 2026 yang sempat menyentuh 4.100 dolar AS per troy ounce. Kamis (18/6/2026), harga bergerak di kisaran 4.297 dolar AS hingga 4.350 dolar AS per troy ounce.
Katalis utamanya agaknya datang dari Washington. Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka pekan ini memicu penurunan harga minyak mentah sekaligus menekan imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Pasar lantas merespons dengan cara yang tidak selalu terduga: alih-alih meninggalkan emas karena risiko turun, investor justru ramai mengakumulasi logam mulia sebagai instrumen lindung nilai.
Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) mencatat tren ini didorong meredanya kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi yang sebelumnya dipicu gangguan pasokan energi global. Mereka tetap mengingatkan pasar untuk tidak terlalu euforia, karena normalisasi distribusi energi lewat Selat Hormuz tidak akan instan. Secara teknikal, support terdekat berada di 4.282 dolar AS hingga 4.307 dolar AS, dengan resistance mengincar area 4.355 dolar AS hingga 4.378 dolar AS.
Di level ritel domestik, pergerakan harga justru sedikit berbeda arah. Emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di butik LM Graha Dipta Pulo Gadung dibanderol Rp2.703.000 per gram pada Kamis pagi, terkoreksi Rp30.000 dari hari sebelumnya. Harga buyback ikut tergerus Rp39.000 ke Rp2.475.000 per gram. Di Pegadaian, gambaran serupa: emas Galeri 24 turun Rp15.000 ke Rp2.703.000 per gram, emas Antam melemah Rp27.000 ke Rp2.812.000, dan UBS tergerus Rp20.000 ke Rp2.717.000. Divergensi antara penguatan global dan pelemahan harga lokal ini bisa jadi mencerminkan timing pembaruan harga yang belum sepenuhnya menyerap rally seminggu terakhir.
Nah, di sinilah pertanyaan yang lebih penting buat investor. Apakah membeli saham berlabel "emas" di BEI sama dengan punya eksposur ke harga emas dunia? Ternyata tidak. Rata-rata korelasi saham emas IDX terhadap harga emas global hanya 0,23 dari skala 1,00, menurut laporan analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand. Angka yang cukup mengejutkan.
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mencatat korelasi tertinggi di 0,38, diikuti ANTM di 0,23 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di 0,21. Yang paling jauh dari emas global justru PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), hanya 0,13. Korelasi antarsaham tambang BEI sendiri jauh lebih rapat, berkisar 0,5 hingga 0,68. Artinya, pergerakan mereka lebih banyak digerakkan sentimen pasar lokal, regulasi, dan aliran dana domestik. "Periksa profil bisnis tiap emiten, sebagian bukan emas murni sehingga korelasinya berbeda. Bila tujuannya mengikuti harga emas, pertimbangkan instrumen yang korelasinya memang tinggi, bukan berasumsi dari label sektor," kata Abida.
Kalau begitu, instrumen emas yang mana? Head of Investment and Insurance Product PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo menyebut emas digital dan ETF emas lebih efisien bagi investor yang aktif bertransaksi karena spread jual-beli lebih kecil. "Kalau tujuannya investasi dan aktif diperjualbelikan, saya pribadi lebih memilih emas digital atau ETF karena spread-nya lebih kecil dan lebih efisien," ujarnya. Emas fisik tetap punya tempat tersendiri bagi mereka yang menginginkan kepemilikan aset nyata. "Tujuan utama emas saat ini lebih pada diversifikasi dan hedging terhadap risiko inflasi maupun gejolak pasar. Jadi, bukan semata-mata mengharapkan kenaikan harga yang sangat tinggi seperti beberapa tahun sebelumnya," tambah Djoko dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Satu hal yang menarik dari pandangan DBS: pasar saham Indonesia justru dinilai menawarkan peluang lebih besar saat ini. IHSG sempat menyentuh 5.317 pada Juni 2026, level terendah dalam lima tahun terakhir. PER IDX sudah minus 2, melampaui tekanan masa pandemi Covid-19 yang kala itu hanya minus 1,5. Valuasi ini, kata Djoko, membuka ruang akumulasi yang tidak kecil bagi investor yang sabar. "Semakin dalam koreksi pasar, sepanjang fundamental ekonomi masih baik, peluang investasi justru semakin menarik," ujarnya. Obligasi pun masih kompetitif karena real yield Indonesia tergolong tinggi secara global. DBS merekomendasikan tenor tiga hingga tujuh tahun.
Resep yang ditawarkan DBS sebetulnya bukan hal baru. Emas untuk lindung nilai, obligasi untuk stabilitas, saham untuk pertumbuhan. Klasik, entah kebetulan atau tidak, resep lama itu masih relevan di pasar yang belum juga tenang ini.