SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas India Menggeliat Jelang Akshaya Tritiya, Chin...

Bisnis

Emas India Menggeliat Jelang Akshaya Tritiya, China Justru Sepi

Permintaan emas di India mulai bergerak menjelang festival Akshaya Tritiya 19 April, meski harga domestik yang parkir di kisaran 152.800 rupee per 10 gram membuat kunjungan ke toko-toko perhiasan tetap sepi. Sementara itu, premi emas di China ambruk dari US$12-17 menjadi hanya US$3-5 per troy ons seiring penurunan konsumsi perhiasan sekitar 25% secara tahunan.

Pemesanan sudah masuk, tapi toko-tokonya masih lengang. Itulah gambaran pasar emas India saat ini, menjelang Akshaya Tritiya yang jatuh pada 19 April.

Festival ini bukan sekadar perayaan biasa. Akshaya Tritiya adalah momen pembelian emas terbesar kedua di India setelah Dhanteras, eh, maaf, em dash dibuang, festival di mana membeli emas diyakini secara turun-temurun mendatangkan keberuntungan. Secara historis permintaan selalu melonjak di periode ini. Tahun ini ceritanya agak lain.

Harga emas domestik India diperdagangkan di kisaran 152.800 rupee per 10 gram, setara sekitar Rp28 juta, pada akhir pekan lalu. Angka itu sudah turun dari puncaknya di level 154.934 rupee yang sempat dicapai di awal pekan, namun tetap saja terasa berat bagi konsumen ritel. Seorang pedagang perhiasan di Ahmedabad, Gujarat, bilang pemesanan memang sudah masuk, tapi jumlah pengunjung yang datang langsung jauh lebih rendah dari biasanya. Konsumen, katanya, kesulitan menyesuaikan diri dengan harga yang terus tinggi.

Senada dengan itu, pedagang emas batangan di Mumbai mengaku suasana sama sekali tidak mencerminkan bahwa festival besar sudah di depan mata. "Menjelang Akshaya Tritiya, para pembeli biasanya melakukan pembelian yang besar, tetapi tahun ini pembelian mereka sangat sedikit. Suasana tidak menunjukkan bahwa festival tersebut akan segera tiba," kata pedagang tersebut.

Para pedagang pun merespons dengan manuver harga. Pekan ini, rentang diskon dan premi bergerak antara minus US$6 hingga plus US$9 per troy ons di atas harga resmi domestik, setelah memperhitungkan bea impor 6% dan bea penjualan 3%. Sepekan sebelumnya, angkanya berbeda: diskon sampai US$8, premi cuma US$2. Pergeseran ke sisi premi mencerminkan tekanan permintaan yang mulai terasa, kendati belum menggelora.

Beda cerita di seberang. China, konsumen emas terbesar di dunia, justru mencatat penyusutan premi yang cukup mencolok. Dari kisaran US$12-17 per troy ons pekan lalu, premi emas di negara itu rontok ke US$3-5 saja. Bernard Sin, Direktur Regional Greater China di MKS PAMP, menyebut penyebabnya adalah kombinasi melemahnya permintaan ritel dan ekspektasi pelonggaran kuota impor. Konsumsi perhiasan di China, menurut Sin, anjlok sekitar 25% secara tahunan. Permintaan sisi investasi masih bertahan, tapi dengan pendekatan yang jauh lebih selektif.

Satu hal yang konsisten dari Beijing: bank sentral China tidak berhenti. People's Bank of China melanjutkan pembelian emas untuk bulan ke-17 berturut-turut, kebijakan yang agaknya jadi faktor penyangga agar sentimen pasar tidak terlalu tertekan.

Di pasar spot global, harga emas bergerak menuju kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, sebagian didorong meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar Asia lainnya mencatat premi tipis: Hong Kong di kisaran US$3 per troy ons, Jepang sekitar US$1, Singapura di rentang US$1-3.

India menyumbang porsi besar konsumsi emas dunia. Kalau Akshaya Tritiya tahun ini gagal mengangkat permintaan secara berarti, outlook permintaan fisik global kuartal kedua bisa-bisa perlu direvisi ke bawah. Pertanyaannya, seberapa dalam?