JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas Gagal Bertahan di $4.000, BofA: Cicil Tapi Ja...

Bisnis

Emas Gagal Bertahan di $4.000, BofA: Cicil Tapi Jangan Buru-Buru

Harga emas spot jatuh hampir 2 persen dalam sehari ke level 3.987 dolar AS per ons. Bank of America justru melihat ini sebagai peluang akumulasi bertahap, meski memperkirakan koreksi masih berlanjut hingga September.

Why Is the Price of Gold Falling? Here Are 5 Key Factors - Pintu News

Harga emas spot kesulitan bertahan di atas level psikologis 4.000 dolar AS per ons. Pada perdagangan Kamis (16/7/2026) waktu setempat, harga tercatat di 3.987,90 dolar AS per ons, ambles hampir 2 persen hanya dalam satu sesi. Tekanan sempat sedikit tertahan setelah data inflasi produsen Amerika Serikat melandai, memberi harapan bahwa The Fed punya ruang lebih untuk melonggarkan kebijakan, tapi pemulihan harga tetap terbatas.

Analis teknikal Bank of America Paul Ciana tidak menyembunyikan pandangannya: koreksi belum selesai. Dalam catatan riset terbarunya, ia menunjuk sinyal "death cross" yang terbentuk pada 26 Juni 2026 di level 4.088,74 dolar AS, ketika SMA 50 hari melintasi ke bawah SMA 200 hari. Berdasarkan 30 kejadian serupa sejak 1975, sinyal ini terbukti diikuti harga yang lebih rendah dalam 67 hingga 70 persen kasus, sekitar 40 sampai 50 hari perdagangan setelahnya.

"Koreksi harga emas sepanjang tahun ini membatalkan kenaikan yang sangat panjang, tetapi bukti adanya titik terendah yang berkelanjutan masih diragukan," kata Ciana. Koreksi saat ini baru berjalan sekitar 24 pekan. Bandingkan dengan reli panjang sebelumnya yang bertahan 121 pekan. Harga memang sudah melewati level retracement Fibonacci 38,2 persen di 4.149 dolar AS, tapi durasinya belum sebanding dengan besarnya reli yang mendahului penurunan ini.

Target support berikutnya yang disorot Ciana ada di kisaran 3.600 dolar AS. Tekanan diperkirakan masih terasa setidaknya sepanjang Agustus dan September 2026. Bukan kabar yang menyenangkan bagi yang sudah terlanjur masuk di harga tinggi.

Namun BofA, entah kebetulan atau tidak, justru memakai proyeksi suram ini sebagai argumen untuk beli bertahap. Rekomendasinya terstruktur: akumulasi moderat mulai di bawah 4.000 dolar AS, tambah posisi di kisaran 3.700 hingga 3.600 dolar AS jika tekanan berlanjut, dan alokasi lebih besar baru dilakukan kalau harga benar-benar jatuh ke rentang 3.450 hingga 3.250 dolar AS. "Jika ditawarkan, kami lebih menyukai akumulasi moderat di bawah 4.000 dolar AS, tetapi dengan risiko penurunan yang masih ada, kami lebih memilih menambah di area 3.700 sampai 3.600 dolar AS dan melakukan alokasi di area 3.450 sampai 3.250 dolar AS," papar Ciana.

Langkah ini konsisten dengan revisi proyeksi BofA yang keluar sekitar sepekan lalu, ketika bank tersebut memangkas rata-rata target harga emas 2026 sebesar 14 persen menjadi 4.360 dolar AS per ons. Angka yang lumayan dalam. Target jangka panjang tidak disentuh: BofA tetap mematok 6.000 dolar AS per ons pada 2027, dengan keyakinan bahwa faktor fundamental pendorong reli emas belum kemana-mana.

Bagi investor ritel lokal, kalkulasinya tidak sesederhana kelihatannya. Kurs rupiah yang fluktuatif bisa mengikis atau justru memperbesar keuntungan dari pergerakan harga dolar, sementara produk emas fisik maupun reksa dana berbasis komoditas punya biaya spread tersendiri. Pertanyaannya, berapa lama koreksi ini masih akan berjalan? Kalau BofA yang punya model canggih saja bilang "cicil pelan-pelan", mungkin itu juga jawaban paling masuk akal untuk investor biasa yang tergoda masuk sekarang.