MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Emas Dua Hari Babak Belur, Pagi Ini Coba Angkat Ke...

Bisnis

Emas Dua Hari Babak Belur, Pagi Ini Coba Angkat Kepala

Harga emas dunia mencatat koreksi dua hari beruntun sebelum mencoba rebound tipis, sementara investor masih menunggu sinyal dari negosiasi AS-Iran dan data ketenagakerjaan Amerika.

Harga Emas Mencoba Bangkit Usai Terjepit, Saatnya Jual atau Beli? - Market

Dua hari tergerus, emas akhirnya mencoba mengangkat kepala. Harga logam mulia di pasar spot pagi ini naik 0,13% ke level US$ 4.477,9 per troy ons, setelah sebelumnya dihajar koreksi 1,53% dalam dua sesi perdagangan terakhir. Terdalam terjadi Senin lalu, ketika harga sempat amblas hampir 2% dalam satu hari.

Pada penutupan Selasa (2/6/2026), harga spot tercatat di kisaran US$ 4.472 hingga US$ 4.486 per troy ons, nyaris flat dibanding sesi sebelumnya. Emas berjangka AS justru menutup sesi dengan penguatan tipis 0,3% ke US$ 4.519,90 per troy ons. Bukan rebound yang meyakinkan, tapi cukup untuk menghentikan perdarahan.

Katalis pagi ini datang dari Washington. Trump menyatakan negosiasi dengan Iran berjalan cepat dan optimistis kedua pihak bisa mencapai kesepakatan damai interim dalam waktu dekat. Kabar itu agaknya cukup untuk memancing aksi beli terbatas, meski pasar masih skeptis. Media Iran sendiri menyebut belum ada komunikasi langsung dengan Washington dalam beberapa hari terakhir, sebuah kontradiksi yang membuat pelaku pasar tetap menahan diri. Kalau data ini bisa dipercaya, narasi damai masih jauh dari final.

Fawad Razaqzada, analis dari Forex.com, membaca situasi ini cukup gamblang. Menurutnya, arah emas saat ini hampir sepenuhnya ditentukan oleh tiga variabel: harga minyak, imbal hasil obligasi, dan pergerakan dolar AS, yang semuanya tersandera oleh dinamika konflik Timur Tengah. "Untuk kembali optimistis terhadap emas, saya perlu melihat momentum kenaikan yang menunjukkan pembeli mulai kembali masuk ke pasar. Saat ini pasar terlihat kehilangan arah karena pelaku pasar masih menunggu petunjuk, terutama dari perkembangan di Timur Tengah," kata Razaqzada.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, emas terjebak dalam posisi paradoksal yang entah kebetulan atau tidak, justru memperbesar ketidakpastian. Ketegangan geopolitik seharusnya mendorong permintaan safe haven. Tapi lonjakan harga energi yang menyertainya memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama dari yang diharapkan. Suku bunga tinggi dan emas ibarat pedang bermata dua, dan saat ini sisi yang tajam sedang menghadap ke arah yang salah bagi pemegang logam mulia.

Commerzbank baru saja memangkas proyeksi harga emas akhir 2026 dari US$ 5.000 menjadi US$ 4.800 per troy ons. Koreksi proyeksi yang tidak main-main. Bank asal Jerman itu tetap mempertahankan target US$ 5.200 per troy ons untuk akhir 2027, dengan keyakinan bahwa faktor struktural pendukung emas, termasuk diversifikasi cadangan devisa bank sentral global, masih utuh.

Perhatian investor kini beralih ke data ketenagakerjaan AS yang akan mengalir sepanjang pekan ini, dimulai dari laporan ADP hingga nonfarm payrolls resmi pemerintah. Angka-angka itu akan menjadi petunjuk apakah The Fed punya ruang untuk memangkas suku bunga atau justru terpaksa menahannya lebih lama. Pertanyaannya, berapa lama emas sanggup bertahan di zona abu-abu ini? Buat logam mulia, perbedaan antara dua skenario The Fed itu bisa berarti ratusan dolar per troy ons.