Harga emas Antam naik lagi. Pada perdagangan Jumat (5/6), harga jual di gerai Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat Rp2.770.000 per gram, naik Rp11.000 dari hari sebelumnya yang berada di Rp2.759.000 per gram. Harga buyback ikut terkerek Rp12.000, dari Rp2.571.000 menjadi Rp2.583.000 per gram.
Selisih antara harga jual dan harga buyback hari ini: Rp187.000 per gram. Angka yang tidak kecil.
Antam memang selalu menetapkan dua harga untuk emas batangan produksinya. Harga jual adalah angka yang dibayar investor ketika membeli emas di gerai Logam Mulia. Harga buyback adalah angka yang diterima investor ketika menjual emas ke gerai yang sama. Dua angka ini tidak pernah bertemu, dan perbedaannya cukup material bagi siapa pun yang serius masuk ke instrumen ini.
Ilustrasinya sederhana. Beli emas pagi ini di Rp2.770.000 per gram, lalu karena darurat harus dijual siang hari, Logam Mulia hanya membayar Rp2.583.000 per gram. Rugi instan Rp187.000 per gram. Bukan main.
Itulah kenapa emas batangan pada dasarnya bukan mainan trader jangka pendek. Spread setebal ini hanya tertutup jika harga bergerak cukup jauh ke atas, dan itu butuh waktu, kadang berbulan-bulan, kadang lebih. Agaknya inilah yang sering luput dari kalkulasi investor ritel yang tergoda kenaikan harga tanpa memperhitungkan biaya masuk dan keluarnya.
Beberapa bulan terakhir, harga emas global memang sedang bersahabat. Ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed, ditambah bank-bank sentral dunia yang rajin menumpuk cadangan emas, semuanya mendorong harga ke atas. Tren itu menarik emas Antam domestik ke level yang secara historis tergolong tinggi.
Bagi investor yang sudah masuk di harga jauh lebih rendah, kenaikan hari ini tentu kabar baik. Yang baru mempertimbangkan entry point, spread Rp187.000 itu seharusnya masuk dalam model break-even mereka, bukan diabaikan hanya karena terlihat kecil dibanding harga per gramnya.
Pertanyaannya bukan apakah emas masih menarik. Pertanyaannya, seberapa panjang horizon investasi yang siap dipegang sebelum spread itu benar-benar tertutup oleh apresiasi harga?