Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kemarin bikin kepala penonton seharian pusing, karena Logam Mulia memperbarui harga dua kali dalam satu hari perdagangan yang sama.
Pagi hari, harga dipangkas Rp 9.000 ke level Rp 2.601.000 per gram, meneruskan koreksi dari Senin yang juga turun Rp 4.000. Sore harinya, Logam Mulia berbalik arah dan mematok harga baru di Rp 2.632.000 per gram. Net harian: naik Rp 22.000 dibanding penutupan sehari sebelumnya di Rp 2.610.000 per gram. Bukan angka kecil untuk satu hari.
Yang agaknya lebih krusial justru bukan harga jualnya. Harga buyback Logam Mulia ikut naik Rp 31.000 ke Rp 2.372.000 per gram, sehingga selisih antara harga beli dan harga jual kembali terbuka lebar di angka Rp 260.000 per gram. Siapa pun yang membeli emas pagi ini lalu terpaksa melepasnya di hari yang sama, langsung merugi nyaris seperempat juta per gram sebelum sempat minum kopi kedua.
Spread selebar itu bukan sekadar angka akuntansi. Ini semacam "biaya masuk" yang harus ditebus oleh kenaikan harga di masa depan. Konteks ini sering luput dari kalkulasi investor pemula: emas batangan secara efektif tidak kompetitif sebagai instrumen jangka pendek. Butuh kenaikan harga yang cukup besar sebelum bisa balik modal, belum termasuk beban pajak. Pembelian dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% untuk pemegang NPWP dan 0,9% bagi non-NPWP, sementara transaksi buyback di atas Rp 10 juta kena PPh 22 sebesar 1,5% untuk pemegang NPWP dan 3% bagi non-NPWP.
Pertanyaannya, seberapa jauh harga harus naik sebelum investor benar-benar untung?
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, memproyeksikan pergerakan fluktuatif pada perdagangan Rabu ini. Kalau terkoreksi, support pertama ada di Rp 2.590.000 per gram; jika tekanan berlanjut, level support kedua di Rp 2.430.000 per gram. Di sisi atas, resistance pertama dipasang di Rp 2.634.000, dan jika momentum menguat, resistance kedua di Rp 2.720.000 per gram.
Sepanjang 2026, emas Antam masih mencatatkan kenaikan sekitar 4,5% dari posisi awal tahun di Rp 2.488.000 per gram. Angka yang terasa muram kalau dibandingkan dengan rekor tertinggi sepanjang masa yang dicetak pada 29 Januari 2026 di level Rp 3.168.000 per gram. Dari puncak itu, harga sekarang masih terpaut sekitar 17%. Belum ada sinyal kuat kapan level tersebut bisa diuji lagi.
Bagi investor yang benar-benar serius masuk ke emas batangan, spread Rp 260.000 per gram itu wajib masuk dalam kalkulasi. Baru setelah harga melampaui angka itu, ditambah potongan pajak, barulah cuan yang sesungguhnya bisa diperbincangkan.