Harga emas ditutup di US$4.520,40 per troy ons pada Senin (4/5/2026), ambles 2,02% dalam satu sesi. Dalam dua hari terakhir, logam kuning sudah kehilangan 2,2% dari nilainya. Harga penutupan itu sekaligus jadi yang terendah sejak 30 Maret 2026.
Pemicunya tidak main-main. Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz dan membakar pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab, setelah upaya Presiden Donald Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka jalur pelayaran justru memicu eskalasi terbesar sejak gencatan senjata empat minggu lalu. Dolar AS menguat tajam. Harga minyak Brent melonjak lebih dari 5%.
Bagi emas, kombinasi ini ibarat pedang bermata dua. Ketegangan geopolitik seharusnya mendorong permintaan safe haven, logika yang sudah berlaku puluhan tahun. Tapi penguatan dolar membuat emas, yang dibanderol dalam greenback, jadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar. Lonjakan energi mempertebal kekhawatiran inflasi, dan itu mendorong spekulasi bahwa The Fed tidak akan buru-buru memangkas suku bunga. Emas tidak memberikan imbal hasil, jadi lingkungan suku bunga tinggi memang bukan habitatnya.
Masif. Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, menyebut kondisi ini "jelas tidak memberi keyakinan bahwa situasi akan baik-baik saja," sekaligus memunculkan kembali kekhawatiran inflasi disertai sinyal kebijakan yang cukup hawkish. Soal level harga, Melek melihat support kuat di sekitar US$4.200, tapi mengakui ketidakpastian jangka pendek bisa mendorong sebagian trader keluar dari posisi lebih awal.
Perlu dicatat bahwa The Fed pekan lalu mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang paling terpecah sejak 1992, kalau data sejarahnya bisa dipercaya. Barclays termasuk yang tegas: tidak akan ada pelonggaran kebijakan dari bank sentral AS sepanjang tahun ini. Pasar kini menunggu serangkaian rilis penting minggu ini, dari data lowongan kerja, laporan ADP, sampai payroll April, yang bisa mempertegas atau justru menggoyahkan ekspektasi tersebut.
Perak ikut babak belur. Senin, harga perak ditutup di US$72,72 per troy ons, jatuh 3,47%. Selasa pagi, angkanya melorot lagi ke US$72,63.
Satu cerita agak berbeda muncul dari lantai bursa Jakarta. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) justru mengawali Mei 2026 dengan melenggang ke zona hijau. Valuasinya kini disebut-sebut sudah sangat murah, bak mercy dijual harga bajaj, mengacu pada analogi yang kerap dipakai investor kawakan Lo Kheng Hong untuk menggambarkan saham undervalue. Bagi investor yang sedang mencari titik masuk, divergensi antara tekanan global dan diskon valuasi domestik ini bisa jadi sinyal yang menarik untuk dicermati.
Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan? Apakah emas akan terus tergelincir menuju support US$4.200 yang disebut Melek, atau justru rebound begitu data ekonomi AS pekan ini memberikan kejutan? Jawaban bisa datang lebih cepat dari yang kita kira.