Besok pagi pukul 11.00 WIB, BPS mengumumkan angka yang sudah lama dinantikan: pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026. Kalau proyeksi 12 lembaga yang dihimpun CNBC Indonesia tidak meleset, hasilnya akan bikin banyak pihak lega.
Konsensus menunjuk 5,40% secara tahunan. Bila benar, ini bukan sekadar angka bagus biasa. Pertumbuhan sebesar itu menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022, sekaligus rekor terbaik di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebagai pembanding: kuartal I-2025 hanya 4,87%, dan rata-rata historis kuartal I dalam satu dekade terakhir, dengan mengecualikan masa pandemi, berdiri di 4,99% yoy.
Bukan angka kecil.
Airlangga Hartarto agaknya sudah tahu ke mana arahnya. Senin malam di kantornya, Menko Perekonomian itu dicegat awak media. Ia tidak memberi angka, tapi senyumnya sudah bicara lebih banyak dari kata-kata. "Proyeksinya kuartal I alhamdulillah," ucapnya singkat, lalu menambahkan semua akan jelas besok jam 11. Sebelumnya, ia sudah memasang proyeksi resmi di 5,5%, didukung stimulus Lebaran yang ia sebut senilai Rp809 triliun.
Lalu apa yang mendorong angka ini?
Tiga mesin bekerja bersamaan sepanjang Januari hingga Maret. Pertama, konsumsi rumah tangga mendapat suntikan dari momentum Ramadan dan Lebaran. Skalanya kali ini cukup terasa. Inflasi bulanan naik ke 0,68% mtm pada Februari dan 0,41% mtm pada Maret, sinyal permintaan yang memang sedang bergairah. Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia bertengger di kisaran 122,9 hingga 127,0 sepanjang kuartal, jauh di atas level optimistis 100.
Kedua, belanja pemerintah meledak. Realisasi belanja negara kuartal I-2026 mencapai Rp815 triliun, melonjak 31,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. Yang paling mencolok: belanja barang, naik 114,6% menjadi Rp111,1 triliun. Sebagian besar lonjakan itu berasal dari Program Makan Bergizi Gratis, yang anggarannya melesat dari Rp700 miliar di kuartal I-2025 menjadi Rp54,4 triliun. Ditambah pembayaran THR yang mendongkrak belanja pegawai 22,2% ke Rp97,1 triliun.
Ketiga, investasi. Realisasi penanaman modal kuartal I-2026 mencapai Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2% yoy. Singapura masih juara dengan US$4,6 miliar, diikuti Hong Kong US$2,7 miliar, China US$2,2 miliar, Amerika Serikat US$1,3 miliar, dan Jepang US$1,0 miliar. Yang tak kalah menarik, serapan tenaga kerja dari investasi ini naik 18,9% yoy menjadi 706.569 orang. Angka yang patut dicermati, kalau data ini bisa dipercaya penuh, justru ketika kekhawatiran soal PHK di sektor manufaktur sedang memuncak.
Neraca perdagangan pun ikut menyumbang. Surplus tiga bulan pertama 2026 mencapai US$5,54 miliar. Maret saja menyumbang US$3,32 miliar, melonjak jauh dari Februari yang US$1,27 miliar.
Semua terlihat solid. Tapi ada catatan yang tidak boleh dilewati begitu saja.
Secara kuartalan, ekonomi diproyeksi terkontraksi 1,0% dibanding kuartal IV-2025. Kontraksi qtq di kuartal I memang pola musiman yang biasa, tapi angkanya tetap perlu diperhatikan. PMI Manufaktur yang terkontraksi ke level terburuk dalam sembilan bulan terakhir juga bukan sinyal yang bisa diabaikan begitu saja. Pertanyaannya, berapa lama momentum ini bertahan?
Airlangga sudah mengantisipasi. Untuk kuartal II, gaji ke-13 bagi ASN, TNI/Polri, dan pensiunan yang dibayarkan Juni jadi salah satu bantalan, selain program perlindungan sosial yang tetap berjalan. Target pertumbuhan sepanjang 2026 dipatok 5,4%. Kalau kuartal I benar-benar 5,4%, kuartal-kuartal berikutnya tidak boleh banyak meleset. Bak gayung bersambut, tapi tekannya berat.
Besok jam 11, semua tanda tanya itu resmi terjawab.